Rabu, 28 April 2010

Jangan Pernah Suudzon terhadap ALLAH dan yakinlah rencana-Nya adalah SEMPURNA


Di Karangayu, sebuahdesa di Kendal, Jawa Tengah, hiduplah seorang ibu penjual tempe. Tak ada pekerjaan lain yang dapat dia lalukan sebagai penyambung hidup. Meski demikian, nyaris tak pernah lahir keluhan dari bibirnya. Ia jalani hidup dengan riang. “Jika tempe ini yang nanti mengantarku ke surga, kenapa aku harus menyesalinya. ..” demikian dia selalu memaknai hidupnya.

Suatu pagi, setelah salatsubuh, dia pun berkemas. Mengambil keranjang bambu tempat tempe, dia berjalan ke dapur. Diambilnya tempe-tempe yang dia letakkan di atasmeja panjang. Tapi, deg! dadanya gemuruh.Tempe yang akan dia jual, ternyata belum jadi. Masih berupa kacang kedelai, sebagian berderai, belum disatukan ikatan-ikatan putih kapas dari peragian.

Tempe itu masih harus menunggu satu hari lagi untuk jadi. Tubuhnya lemas. Dia bayangkan, hari ini pasti dia tidak akan mendapatkan uang, untuk makan, dan modal membeli kacang kedelai, yang akan dia olah kembali menjadi tempe.

Di tengah putus asa,terbersit harapan di dadanya. Dia tahu, jika meminta kepada Allah, pasti tak akan ada yang mustahil. Maka, di tengadahkan kepala, dia angkat tangan, dia baca doa. “Ya Allah, Engkau tahu kesulitanku. Aku tahu Engkau pasti menyayangi hamba-Mu yang hina ini.

Bantulah aku ya Allah, jadikanlah kedelai ini menjadi tempe. Hanya kepada-Mu kuserahkan nasibku…” Dalam hati, dia yakin, Allah akan mengabulkan doanya.

Dengan tenang, dia tekan dan mampatkan daun pembungkus tempe. Dia rasakan hangat yang menjalari daun itu. Proses peragian memang masih berlangsung. Dadanya gemuruh. Dan pelan, dia buka daun pembungkus tempe. Dan… dia kecewa. Tempe itu masih belum juga berubah. Kacang kedelainya belum semua menyatu olehkapas-kapas ragi putih. Tapi, dengan memaksa senyum, dia berdiri. Diayakin, Allah pasti sedang “memproses” doanya. Dan tempe itu pasti akan jadi.

Dia yakin, Allah tidak akan menyengsarakan hambanya yang setia beribadah seperti dia. Sambil meletakkan semua tempe setengah jadi itu ke dalam keranjang,dia berdoa lagi. “Ya Allah, aku tahu tak pernah ada yang mustahil bagi-Mu. Engkau Maha Tahu, bahwa tak ada yang bisa aku lakukan selain berjualan tempe. Karena itu ya Allah, jadikanlah.Bantulah aku, kabulkan doaku…”

Sebelum mengunci pintu dan berjalan menuju pasar, dia buka lagi daun pembungkus tempe. Pasti telah jadi sekarang, batinnya. Dengan berdebar, dia intip dari daun itu, dan… belum jadi. Kacang kedelai itu belum sepenuhnya memutih. Tak ada perubahan apa pun atas ragian kacang kedelai tersebut. “Keajaiban Tuhan akan datang… pasti,” yakinnya.

Dia pun berjalan ke pasar. Di sepanjang perjalanan itu, dia yakin, “tangan” Tuhan tengah bekerja untuk mematangkan proses peragian atas tempe-tempenya. Berkali-kali dia dia memanjatkan doa… berkali-kali dia yakinkan diri, Allah pasti mengabulkan doanya.

Sampai di pasar, di tempat dia biasa berjualan, dia letakkan keranjang-keranjang itu. “Pasti sekarang telah jadi tempe!” batinnya. Dengan berdebar, dia buka daun pembungkus tempe itu, pelan-pelan. Dan… diaterlonjak. Tempe itu masih tak ada perubahan. Masih sama seperti ketika pertama kali dia buka di dapur tadi.

Kecewa, airmata menitiki keriput pipinya. Kenapa doaku tidak dikabulkan? Kenapa tempe ini tidak jadi? Kenapa Tuhan begitu tidak adil? Apakah Dia ingin aku menderita? Apa salahku? Demikian batinnya berkecamuk.

Dengan lemas, dia gelar tempe-tempe setengah jadi itu di atas plastik yang telah dia sediakan. Tangannya lemas, tak ada keyakinan akan ada yang mau membeli tempenya itu. Dan dia tiba-tiba merasa lapar… merasa sendirian. Tuhan telah meninggalkan aku, batinnya.

Airmatanya kian menitik. Terbayang esok dia tak dapat berjualan… esok dia pun tak akan dapat makan. Dilihatnya kesibukan pasar, orang yang lalu lalang, dan “teman-temannya” sesama penjual tempe di sisi kanan dagangannya yang mulai berkemas. Dianggukinya mereka yang pamit, karena tempenya telah laku. Kesedihannya mulai memuncak. Diingatnya, tak pernah dia mengalami kejadian ini. Tak pernah tempenya tak jadi. Tangisnya kian keras. Dia merasa cobaan itu terasa berat…

Di tengah kesedihan itu, sebuah tepukan menyinggahi pundaknya. Dia memalingkan wajah, seorang perempuan cantik, paro baya, tengah tersenyum, memandangnya. “Maaf Ibu, apa ibu punya tempe yang setengah jadi? Capek saya sejak pagi mencari-cari di pasar ini, tak ada yang menjualnya. Ibu punya?”

Penjual tempe itu bengong. Terkesima. Tiba-tiba wajahnya pucat. Tanpa menjawab pertanyaan si ibu cantik tadi, dia cepat menadahkan tangan. “Ya Allah, saat ini aku tidak ingin tempe itu jadi. Jangan engkau kabulkan doaku yang tadi. Biarkan sajalah tempe itu seperti tadi, jangan jadikan tempe…” Lalu segera dia mengambil tempenya. Tapi, setengah ragu, dia letakkan lagi. “jangan-jangan, sekarang sudah jadi tempe…”

“Bagaimana Bu? Apa ibu menjual tempe setengah jadi?” tanya perempuan itu lagi.
Kepanikan melandanya lagi. “Duh Gusti… bagaimana ini? Tolonglah ya Allah, jangan jadikan tempe ya?” ucapnya berkali-kali. Dan dengan gemetar, dia buka pelan-pelan daun pembungkus tempe itu. Dan apa yang dia lihat, pembaca?? Di balik daun yang hangat itu, dia lihat tempe yang masih sama. Belum jadi! “Alhamdulillah!” pekiknya, tanpa sadar. Segera dia angsurkan tempe itu kepada si pembeli.

Sembari membungkus, dia pun bertanya kepada si ibu cantik itu. “Kok Ibu aneh ya, mencari tempe kok yang belum jadi?”

“Oohh, bukan begitu, Bu. Anak saya, si Shalauddin, yang kuliah S2 di Australia ingin sekali makan tempe, asli buatan sini. Nah, agar bisa sampai sana belum busuk, saya pun mencari tempe yang belum jadi. Jadi, saat saya bawa besok, sampai sana masih layak dimakan. Oh ya, jadi semuanya berapa, Bu?”
——————————————————————————
Dalam kehidupan sehari-hari, kita acap berdoa, dan “memaksakan” Allah memberikan apa yang menurut kita paling cocok untuk kita. Dan jika doa kita tidak dikabulkan, kita merasa diabaikan, merasa kecewa. Padahal, Allah paling tahu apa yang paling cocok untuk kita. Jangan Pernah Suudzon terhadap ALLAH dan yakinlah rencana-Nya adalah SEMPURNA


Copyright : Catatan Pukis Senja
READ MORE - Jangan Pernah Suudzon terhadap ALLAH dan yakinlah rencana-Nya adalah SEMPURNA

Sururiyyah Musuh Ulama

Sururiyyah Musuh Ulama
Selasa, 17-Januari-2006, Penulis: Al Ustadz Abu Usamah bin Rawiyah An Nawawi

Sekilas bila seseorang memandang kepada penampilan dan dakwah Sururiyah, dia akan menyimpulkan bahwa dakwah ini adalah dakwah Ahlus Sunnah. Terlebih bila mendengar pengakuan mereka dengan mengangkat nama Ahlus Sunnah. Sungguh mereka jauh dari Ahlus Sunnah dan pengakuan mereka tidak lebih dari ungkapan penyair.

Setiap orang mengaku punya hubungan dengan Laila
Namun Laila mengingkari hal itu

Benarkah Sururiyah itu Ahlus Sunnah dan bagaimana sikap mereka terhadap ulama?
Sururiyah adalah bentuk penisbatan kepada Muhammad Surur Zainal Abidin, seseorang yang bermukim di Birmingham, Inggris setelah dia meninggalkan negeri Islam. Sururiyah memiliki manhaj (jalan) yang telah menyempal dari manhaj Ahlus Sunnah.
Asy-Syaikh Zaid bin Muhammad mengatakan: “Tidak bisa dikatakan Quthbiyun (sebuah manhaj yang dikembangkan mengikuti pemikiran oleh Sayyid Quthub) dan Sururiyun sebagai Ahlus Sunnah karena banyak penyelewengan kedua kelompok ini dalam permasalahan-permasalahan yang sangat berbahaya, di antaranya memiliki manhaj takfir dengan tanpa ada dalil pembolehan sedikitpun baik secara akal maupun nash. Memiliki kesalahan yang sangat keji dan fatal yang terkait dengan perkara yang paling besar permasalahannya di dalam agama yaitu permasalahan i’tiqad dan mengumumkan perang yang dahsyat kepada Ahlus Sunnah baik sebagai rakyat atau pemerintah, dan mereka menuduh dan mencela dengan berbagai macam celaan. Sementara Ahlus Sunnah bara’ (berlepas diri) dari mereka.” (As-Siraj Al-Waqqad fil Bayan Tash-hih Al-I’tiqad hal. 100)
Manhaj pendiri gerakan Sururiyah ini sama dengan manhaj para pengikut Sayyid Quthub dan terlebih khusus lagi perlawanannya yang keras terhadap aqidah Salaf yang sumbernya adalah Al-Qur’an dan As-Sunnah. Mereka menjuluki Ahlus Sunnah sebagai makhluk yang hanya bisa mengeong dan dijuluki al-’abid atau ‘abid al-’abid1 (budaknya budak) serta julukan-julukan lain yang kotor dan keji.
Cukuplah penggambaran singkat ini untuk mengetahui sekilas tentang Sururiyah. (As-Siraj Al-Waqqad fil Bayan Tash-hih Al-I’tiqad hal. 100 dan seterusnya, ‘Isyruna Ma’khadzan ‘ala As-Sururiyyah karya Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab Al-Wushabi, Al-Ajwibah Al-Mufidah karya Asy-Syaikh Fauzan Al-Fauzan dan Tuhfatul Mujib karya Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi'i)

Ulama dalam pandangan mereka
Berdasarkan nash-nash dari Al-Qur’an dan As-Sunnah bahwa ulama memiliki kedudukan yang tinggi di hadapan Allah Subhanahu wa Ta'ala dan umat memiliki kewajiban untuk taat kepada mereka. Tidak ada yang melecehkan mereka kecuali ahli bid’ah dan itulah ciri mereka. Al-Imam Ash-Shabuni rahimahullah mengatakan: “Tanda-tanda kebid’ahan pada pelakunya sangat nampak sekali dan di antara tanda-tanda mereka yang nyata adalah keras permusuhan mereka terhadap para pembawa hadits dan pelecehan mereka terhadapnya dan mereka menjulukinya dengan penyebutan orang gembel, bodoh, dzahiriyyah, dan musyabbihah.” (‘Aqidatus Salaf Ashab Al-Hadits, hal. 116)
Beliau rahimahullah membawakan ucapan Ahmad bin Sinan Al-Qaththan dengan sanadnya kepada beliau: “Tidak ada seorangpun ahli bid’ah di atas dunia ini melainkan dia sangat membenci ahli hadits.” (Lihat di atas hal. 116)
Setelah kita mengetahui bahwa Sururiyyun adalah ahli bid’ah, maka dari ucapan ulama di atas sangat jelas tentang kebencian mereka terhadap ulama Ahlus Sunnah. Hal ini terlihat ketika Asy-Syaikh Ibnu Baz rahimahullah memfatwakan bolehnya meminta bantuan orang kafir dalam menghadapi Saddam Husain dan tentara-tentaranya pada peristiwa Perang Teluk. Mereka (orang-orang Sururiyyun) berada di sebuah jalan dengan kejahilan mereka, sedang Al-Imam Ibnu Baz rahimahullah di jalan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dengan ilmunya.
Pelecehan kepada seorang ulama sama artinya dengan melecehkan ilmu yang mereka bawa dan juga melecehkan ulama yang semisalnya di atas manhaj Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.
Inilah bentuk kesesatan dan penyesatan terhadap umat. Oleh karena itu berhati-hatilah dari Sururiyyun. Mereka bertebaran di seluruh dunia dan tidak terlepas pula di negeri muslimin Indonesia. Di antara bentuk pelecehan mereka terhadap ulama adalah:
a. Membuang bimbingan-bimbingan dan fatwa para ulama bila bertentangan dengan hawa nafsu dan manhaj yang mereka tempuh. Mereka menerima para ulama tersebut bila sesuai dengan hawa nafsu mereka dan menolaknya bila menyelisihi mereka. Tabiat mereka adalah senang menabrakkan fatwa-fatwa para ulama bila fatwa tersebut tidak sesuai dengan konsep mereka. Apakah demikian jalannya Ahlus Sunnah?
b. Mereka siap mengkritik ulama Ahlus Sunnah dan mereka menjadi setan bisu terhadap kejahatan ulama-ulama mereka yang telah berjasa besar atas mereka dalam urusan duniawi.
c. Mereka menuduh ulama Ahlus Sunnah tidak mengetahui fiqhul waqi’, bahkan mereka adalah bertempat tinggal rumah-rumah kerang.
d. Wala’ mereka yang tinggi terhadap Muhammad Surur, Al-Mas’ari, Sayyid Qutub dan selain mereka dan bara’ terhadap ulama-ulama As-Sunnah.
e. Membela para peleceh ulama Ahlus Sunnah dan yang berani berbicara tentang mereka seperti yang dilakukan oleh Al-Mas’ari terhadap Asy-Syaikh Ibnu Baz rahimahullah dengan mengatakan: qaraba al-kufra, mendekati kekafiran. Seperti yang diucapkan oleh Aqil Al-Maqthari tentang Asy-Syaikh Muqbil rahimahullah dengan mengatakan: “Asy-Syaikh Muqbil adalah Mausus Ad-Diyar Yamaniyah.” (Asy-Syaikh Muqbil adalah bencana, malapetaka, perusak negeri Yaman). Begitu juga ucapan dia tentang Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah di negeri Syam.
Bukankah ini semua merupakan kejahatan di dalam agama? Dan inilah ciri ahli bid’ah. (‘Isyrun Ma’khadzan ‘Ala Sururiyyah, karya Muhammad bin Abdil Wahhab dan Fitnah At-Takfir, karya Muhammad bin Abdullah Al-Husaini)
Wallahu a’lam.


1 Wallahu a’lam, yang mereka maksud adalah Fahd (raja Saudi Arabia ) sebagai budak Amerika dan para ulama sebagai budak Fahd.

(http://www.asysyariah.com/print.php?id_online=230)
READ MORE - Sururiyyah Musuh Ulama

Terbisu Saat Sholat

Pendapat yang dinyatakan oleh Abu Bakr Al-Ashom dan muridnya yang bernama Ibrahim bin Isma’il bin Ulayyah bahwa saat sholat seseorang boleh diam (membisu/membaca dalam hati), dan tak perlu mengucapkan sesuatu apapun berupa dzikir dan bacaan; ini adalah pendapat batil, menyeleneh, dan menyelisihi dalil-dalil syar’iy.

Siapakah Abu Bakr Al-Ashom dan muridnya yang bernama Ibrahim bin Isma’il bin Ulayyah ini?

Al-Hafizh Ibnu Abdil Barr Al-Andalusiy rahimahullah berkata, “Dia (Ibrahim bin Isma’il bin Ulayyah) memiliki banyak keganjilan, sedang pendapat-pendapatnya di sisi Ahlus Sunnah ditinggalkan; tak ada satu pendapatnya pun yang dianggap khilaf (yakni, tak ada nilainya)”. [Lihat Lisan Al-Mizan (1/15)]

Al-Imam Asy-Syafi’iy -rahimahullah- berkata tentang Ibrahim ini, “Dia adalah orang yang sesat yang biasa duduk di pintu As-Sawwal untuk menyesatkan manusia”. Asy-Syafi’iy juga berkata, “Saya selalu menyelisihi Ibnu Ulayyah dalam segala hal”. [Lihat Lisan Al-Mizan (1/15)]

Al-Imam Abu Abdillah Adz-Dzahabiy-rahimahullah- berkata tentang Ibrahim bin Isma’il bin Ulayyah, “Dia adalah seorang Jahmiyyah (aliran sesat). Orangnya suka berdebat (ahli kalam), dan menyatakan bahwa Al-Qur’an adalah makhluk. Dia wafat pada tahun 218 H“. [Lihat Mizan Al-I'tidal (1/20)]

Diantara dalil-dalil yang membatalkan pendapat nyeleneh dua orang ini adalah firman Allah -Ta’ala-,

“Sesungguhnya Tuhanmu mengetahui bahwasanya kamu berdiri (sholat) kurang dari dua pertiga malam, atau seperdua malam atau sepertiganya dan (demikian pula) segolongan dari orang-orang yang bersama kamu. Dan Allah menetapkan ukuran malam dan siang. Allah mengetahui bahwa kamu sekali-kali tidak dapat menentukan batas-batas waktu-waktu itu, maka dia memberi keringanan kepadamu. Karena itu, bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al Quran“.(QS. Al-Muzzammil : 20)

Ayat ini turun berkaitan dengan sholat, sedang bacaan disini sifatnya muthlaq (global), mencakup semua bacaan, baik itu Al-Fatihah, maupun bacaan nafilah setelahnya. Namun ayat ini tentunya telah dijelaskan oleh Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- bahwa yang dimaksud adalah wajib membaca Al-Fatihah, dan selebihnya adalah nafilah (mustahab). Oleh karenanya, beliau bersabda,

لاَ صَلاَةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ

“Tak sholat bagi orang yang tidak membaca Fatihatul Kitab”. [HR. Al-Bukhoriy (756), Muslim (872)]

Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqolaniy -rahimahullah- berkata usai menjelaskan wajibnya membaca AL-Fatihah, “Jika hal itu telah nyata, maka keherananku tak pernah berhenti terhadap orang yang sengaja tidak membaca Surat Al-Fatihah dari kalangan mereka, dan tak melakukan tuma’ninah. Akhirnya, ia pun melakukan suatu sholat yang ia mau mendekatkan diri kepada Allah -Ta’ala- dengannya, sedang ia sengaja melakukan dosa (yakni, tidak membaca Al-Fatihah) di dalamnya karena berlebihan dalam mewujudkan penyelisihan terhadap madzhab yang lain“. [Lihat Fathul Bari(2/313-314)]

Andaikan membaca dan berdzikir dalam hati adalah perkara yang mencukupi dalam sholat –dan itu mustahil-, maka tentunya Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- tak akan bersabda kepada orang yang tidak becus melakukan sholatnya,

ثُمَّ اقْرَأْ مَا تَيَسَّرَ مَعَكَ مِنْ الْقُرْآنِ

“Kemudian bacalah sesuatu yang mudah padamu berupa Al-Qur’an”. [HR. Al-Bukhoriy dalam Kitab Al-Adzan (757), dan Muslim dalam Kitab Ash-Sholah (883)]
Sebab yang disebut dengan qiro’ah (bacaan) bukan ucapan hati. Diantara konsekuensi qiro’ah (bacaan) menurut bahasa dan syara’ adalah menggerakkan lisan ( تحريك اللسان ) sebagaimana hal ini telah dimaklumi.
Contohnya, firman Allah -Ta’ala-:

“Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk (membaca) Al Quran, karena hendak cepat-cepat (menguasai)nya”
(QS. Al-Qiyamah : 16).

Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- dilarang oleh Allah menirukan bacaan Jibril –‘alaihi salam- kalimat demi kalimat, sebelum Jibril selesai membacakannya, agar nabi Muhammad -Shallallahu alaihi wa sallam- dapat menghafal dan memahami betul-betul ayat yang diturunkan itu.

Jadi, qiro’ah bukanlah ucapan hati, bahkan ucapan lisan. Oleh karena itu, para ulama yang melarang orang junub untuk membaca Al-Qur’an, mereka menetapkan bolehnya membaca ayat-ayat dalam hati, sebab ucapan dalam hati bukanlah qiro’ah (bacaan) yang terlarang, dan memang beda. [Lihat Al-Qoul Al-Mubin (hal.98) oleh Syaikh Masyhur bin Hasan Alu Salman, cet. Dar Ibn Al-Qoyyim & Dar Ibn Affan, 1416 H]

Al-Imam An-Nawawiy -rahimahullah- berkata, “Boleh bagi mereka (orang junub, wanita haidh dan nifas) untuk menyiratkan Al-Qur’an dalam hati, tanpa dilafazhkan; demikian pula melihat mushhaf , dan membacanya dalam hati”. [Lihat Al-Adzkar (hal. 13-14) oleh An-Nawawiy, dengan tahqiq Ishomuddin Adh-Dhobabithiy, cet. Dar al-Hadits, 1424 H]

Seorang ulama Andalusia, Al-Qodhi Muhammad Ibn Rusyd pernah berkata, “Adapun bacaan seseorang dalam hatinya, namun ia tidak menggerakkan lisannya, bukanlah qiro”ah (bacaan) berdasarkan pendapat yang benar, karena bacaan itu hanyalah ucapan dengan menggunakan lisan. Nah, itulah yang diberi balasan. Dalil tentang hal itu adalah firman Allah -Azza wa Jalla-,

“Dia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya“. (QS. Al-Baqoroh : 286)

Dalilnya juga adalah sabda Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-,

تَجَاوَزَ اللَّهُ لِأُمَّتِي مَا حَدَّثَتْ بِهِ أَنْفُسُهَا

“Allah memaafkan bagi umatku sesuatu yang diucapkan oleh hati mereka”. [HR. Al-Bukhoriy (5269), Muslim (), Abu Dawud (2209), At-Tirmidziy (1183), An-Nasa'iy (3434) dan Ibnu Majah (2040). Lihat Irwa' Al-Gholil (2062)]

Sebagaimana halnya seorang tidak dihukum dengan sebab sesuatu yang diucapkan oleh hatinya berupa kejelekan, dan itu tidak memudhoroti dirinya, maka demikian pula ia tidak diberi balasan atas sesuatu yang diucapkan oleh hatinya berupa qiro’aah, dan kebaikan. Balasan yang diberikan hanyalah berdasarkan gerakan lisan ketika membaca, dan melakukan kebaikan”. [Lihat Al-Bayan wa At-Tahshil (1/491)]

Diantara dalil yang paling kuat tentang wajibnya membaca dzikir dan qiro’ah dengan lisan dalam sholat, bukan hanya sekedar ucapan hati, yaitu hadits seorang yang tidak becus melakukan sholatnya ketika Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda kepadanya,

إِذَا قُمْتَ إِلَى الصَّلاَةِ فَكَبِّرْ ثُمَّ اقْرَأْ مَا تَيَسَّرَ مَعَكَ مِنْ الْقُرْآنِ ثُمَّ ارْكَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ رَاكِعًا ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَعْدِلَ قَائِمًا ثُمَّ اسْجُدْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ سَاجِدًا ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ جَالِسًا وَافْعَلْ ذَلِكَ فِي صَلَاتِكَ كُلِّهَا

“Jika engkau bangkit melaksanakan sholat, maka bertakbirlah, lalu bacalah sesuatu yang mudah bagimu berupa Al-Qur’an. Kemudian rukuklah sampai tuma’ninah dalam posisi rukuk. Kemudian bangkitlan sampai tegak dalam posisi berdiri. Lalu sujudlah sampai tuma’ninah dalam keadaan sujud. Kemudian bangkitlah sampai tuma’ninah dalam keadaan duduk. Lakukanlah hal itu dalam seluruh sholatmu”. [HR. Al-Bukhoriy dalam Kitab Al-Adzan (757), dan Muslim dalam Kitab Ash-Sholah (883)]
Hadits ini menjelaskan bahwa diantara rukun sholat adalah bertakbir dan membaca Al-Fatihah pada setiap raka’at, sedang kedua rukun ini adalah rukun yang berkaitan dengan ucapan dan bacaan. Jadi, barangsiapa yang tidak membaca dan mengucapkannya dalam sholat, maka sholatnya batal!!! Jika ia terus melakukannya, maka ia berdosa.

Ini bagi orang yang mampu membaca Al-Fatihah. Jika tidak mampu membaca Al-Fatihah setelah ia berusaha sekuat tenaga untuk menghafalnya, namun ia tak mampu juga karena suatu penyakit atau buta huruf, dan lainnya, maka Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- tetap memberikan bimbingan agar ia membaca dzikir berikut ini:

Dari sahabat Ibnu Abi Aufa -radhiyallahu anhu- berkata,

عَنْ ابْنِ أَبِي أَوْفَى قَالَ:جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ إِنِّي لَا أَسْتَطِيعُ أَنْ آخُذَ شَيْئًا مِنْ الْقُرْآنِ فَعَلِّمْنِي شَيْئًا يُجْزِئُنِي مِنْ الْقُرْآنِ فَقَالَ قُلْ سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّهِ

“Seseorang pernah datang kepada Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- seraya berkata, “Sesungguhnya aku tidak mampu menghafal sesuatupun dari AL-Qur’an. Karenanya, ajarilah aku sesuatu yang mencukupi aku dari Al-Qur’an“. Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda, “Bacalah:

سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّهِ

(Maha suci Allah, dan segala puji bagi Allah; Tiada sembahan yang, kecuali Allah; Allah Maha besar; Tiada daya dan upaya, kecuali pada Allah)”. [HR. Abu Dawud (832) dan An-Nasa'iy (923). Di-hasan-kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Al-Irwa' (303)]

Maka perhatikan ketika Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- memberikan ganti bacaan Al-Fatihah dengan dzikir tersebut, maka gantinyapun dengan dzikir qouliy (dzikir ucapan dengan menggunakan lisan). Semua ini menunjukkan kepada kita tentang batilnya pendapat Abu Bakr Al-Ashom dan Ibrahim bin Isma’il bin Ulayyah. Ini juga menghancurkan paham dan pemikiran menyimpang yang pernah dicetuskan oleh kaum shufiyyah alias tarekat bahwa sholat tidak perlu melakukan gerakan-gerakan dan membaca dzikir dan lainnya dalam sholat. Menurut mereka bahwa sholat itu cukup dzikir dalam hati. Subhanallah, jelas ini batil berdasarkan dalil-dalil di atas. Walilllahil hamdu walminnah.

Ringkasnya , sholat haruslah disertai ucapan dan gerakan perbuatan yang telah dijelaskan oleh Teladan kita, Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- dalam hadits-hadits yang shohih dari beliau. Tidak boleh sholat itu hanya sekedar bacaan atau dzikir dalam hati!!
Wallahu ta'ala a'lam

Sumber :
http://qurandansunnah.wordpress.com/2010/04/06/terbisu-saat-sholat/#more-2549

*dicopas dari status Abu Ayaz
http://www.facebook.com/rostiyan?rf60f7f1d&refid=0
READ MORE - Terbisu Saat Sholat

Tragedi Pengagungan Kuburan Orang Shalih - Makam Mbah Priok

Ringkasan materi kajian berikut sangat bagus untuk disampaikan dalam kotbah jumat ataupun kutbah kajian agar masyarakat memahami inti permasalahan mengenai larangan menganggap keramat (pengagungan) terhadap makam / kuburan orang shalih / wali Allah. Sehingga setelah dipahami inti dari permasalahan pengagungan kuburan orang shalih, masyarakat dapat menyikapi kejadian Tanjung Priok Berdarah – Pembelaan Terhadap Makam Keramat Habib Hadad Mbah Priok dengan adil. Foto-foto Tragedi Tanjung Priok Berdarah menunjukkan betapa bahayanya pengagungan kuburan orang shalih sampai darahpun tertumpah untuk membelanya.
Penjelasan Bahwa Sikap Berlebihan dalam Menyikapi Kuburan Orang Shalih dapat Menjadikannya Sebagai Sesembahan yang Disembah Selain Allah

Rasulullah bersikap keras terhadap orang yang beribadah kepada Allah tetapi melakukannya di kuburan orang shalih. Beliau juga melarang Yahudi dan Nashrani menjadikan kuburan orang shalih mereka sebagai Masjid. Hal ini dikarenakan pengagungan kuburan orang shalih ini termasuk salah satu sebab terbesar terjadinya kesyirikan.
Penafsiran Ibnu Abbas

Dan mereka berkata: “Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) wadd, dan jangan pula suwwa´, yaghuts, ya´uq dan nasr”. [Nuh : 23]

Ibnu Abbas menafsirkan firman Allah diatas bahwa kelima orang shalih tersebut hidup di zaman Nabi Nuh. Ketika mereka wafat maka dibuatkanlah patung untuk mengenang kesalihan mereka, dan kuburan mereka dijadikan tempat i’tikaf. Maka syaitan menghiasi amalan ini sehingga masyarakat menganggapnya sebagai amalan yang bagus. Maka setelah berlalu beberapa generasi dan hilang ilmu bahwa patung tersebut hanya sekedar pengingat terhadap kesalihan orang tersebut, maka dijadikanlah patung-patung tersebut sebagai sesembahan selain Allah.
Nabi Berdoa Agar Kuburannya Tidak Dijadikan Berhala

Diriwayatkan oleh Imam Malik dalam kitab Al Muwatha’ bahwa Rasulullah bersabda, “Ya Allah, janganlah Engkau menjadikan kuburanku sebagai berhala yang disembah, sangat keras kemurkaan Allah terhadap kaum yang menjadikan kuburan Nabi mereka sebagai masjid.”

Hadits dengan riwayat Imam Malik ini terputus sanadnya, akan tetapi terdapat hadits yang lain yang tersambung sanadnya kepada Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wasalam. Diantaranya diriwayatkan oleh Imam Al Bazar dari sahabat Abu Sa’id Al Khudry bersambung terhadap Rasulullah. Dan diriwayatkan Imam Ahmad dari sahabat Abu Hurairah, bahwa Rasulullah bersabda :

Ya Allah janganlah engkau jadikan kuburanku sebagai berhala yang disembah, Allah melaknat suatu kaum yang menjadikan kuburan nabi-nabi mereka sebagai masjid.

Sehingga hadits Imam Malik diatas secara umum dishahihkan oleh Asy Syaikh Al Albani berdasarkan jalan-jalan yang lain.

Rasulullah berdoa seperti di atas karena khawatir apabila umat Islam terjatuh kepada kesyirikan setelah kematian Rasulullah baik dengan jalan menjadikan kuburan orang shalih sebagai masjid ataupun dengan sebab yang lain. Sehingga merupakan kesalahan bagi orang yang menganggap bahwa larangan pembuatan patung atau gambar orang shalih yang dikhawatirkan menjadi berhala yang disembah hanya berlaku bagi umat terdahulu saja. Dalam hadits disebutkan bahwa akan muncul suatu kaum dari umat Islam yang selalu mengikuti langkah-langkah Yahudi dan Nashrani, bahkan tatkala mereka masuk ke dalam lubang biawak, sekelompok umat Islam tersebut tetap mengikuti mereka. Dalam hadits lain disebutkan bahwa tidak akan terjadi hari kiamat sampai ada sebagian umat Islam yang menyembah berhala.

Doa Nabi di atas dikabulkan Allah, sebagaimana doa Nabi Ibrahim agar beliau dan keturunannya dijauhkan dari penyembahan terhadap berhala.

Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berkata: “Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Mekah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala. [Ibrahim : 35]

Salah satu hikmah Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wasalam dikuburkan di tempat beliau meninggal tidak di kuburan umum kaum muslimin adalah untuk menghindari terjadinya pengagungan kuburan beliau.
Makna Menjadikan Kuburan Sebagai Masjid

Terdapat tiga makna menjadikan kuburan sebagai masjid, yaitu :

* Membangun masjid di atas kuburan
* Shalat di atas kuburan
* Shalat menghadap kuburan

Dalam riwayat Imam Muhammad bin Jarir Ath Thabari ketika membawakan penafsiran Imam Mujahid (murid sahabat Ibnu Abbas) mengenai firman Allah :

Maka apakah patut kamu (hai orang-orang musyrik) menganggap Al Laata dan Al Uzza, dan Manah yang ketiga, yang paling terkemudian (sebagai anak perempuan Allah)? [An-Najm : 19 – 20]
Makna Kata Al Laata

Terdapat dua cara dalam membaca kata Al Laata ini, yaitu :

* اللت Al Laata (tanpa tasydid) = bermakna Al Ilah (sesembahan)
* اللتّ Al Laatta (dengan tasydid) = bermakna orang yang membuat adonan roti

Mujahid membaca Al Laata dengan Al Laatta (dengan tasydid), sehingga ditafsirkan bahwa patung putih yang terdapat di Thaif dulunya sebagai orang yang membuatkan adonan roti (memberikan pelayanan, Khadimul Haramain) untuk para jama’ah haji yang datang ke Makkah dan Madinah, memiliki kebaikan yang banyak dan sangat disenangi masyarakat. Maka tatkala orang ini mati orang-orang menjadikan kuburannya sebagai tempat untuk i’tikaf.
Rasulullah Melarang Wanita Terlalu Sering Berziarah

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa Rasulullah melaknat wanita yang berziarah kubur dan orang-orang yang menjadikan kuburan sebagai masjid dan yang memberikan lentera (lampu) di kuburan.

Akan tetapi hadits dengan lafadh di atas terdapat kelemahan, sedangkan dalam hadits Hasan bin Tsabit yang diriwayatkan Imam Ibnu Majah dengan sanad yang lebih kuat disebutkan bahwa yang dilaknat adalah wanita yang sering menziarahi kubur, sehingga wanita kadang-kadang boleh berziarah kubur.
Kesimpulan

Kesimpulan dari ringkasan kajian di atas bahwa kita dilarang menjadikan kuburan orang shalih sebagai masjid baik dengan membangun masjid di atas kuburan, shalat di atas kuburan, shalat menghadap kuburan, ataupun ibadah-ibadah lain yang dilarang mengerjakannya di kuburan seperti membaca Al-Qur’an dan i’tikaf (berdiam diri). Karena mengerjakan ibadah-ibadah tersebut di kuburan orang shalih dan berlebihan dalam mengagungkannya merupakan salah satu pintu terbesar terjerumusnya seseorang dalam kesyirikan.
READ MORE - Tragedi Pengagungan Kuburan Orang Shalih - Makam Mbah Priok

Sesungguhnya Islam adalah Sunnah dan Sunnah adalah Islam, yang menyelisihi sunnah adalah bid'ah. Maka bid'ah bukanlah Islam.

Bismillahirrahmanirrahim
Redaksi 1

اعلم أن الإسلام هو السنة
والسنة هي الإسلام ولا يقوم أحدهما إلا بالآخر فمن السنة لزوم الجماعة و من رغب غير
الجماعة وفارقها فقد خلع ربقة الإسلام من عنقه وكان ضالا مضلا

Ketahuilah, bahwa sesungguhnya Islam adalah Sunnah dan Sunnah adalah Islam,
tidak akan tegak salah satunya kecuali dengan yang lain. Maka termasuk dari
Sunnah adalah melazimi (senantiasa bersama dengan ) Al-Jama'ah. Barangsiapa
yang senang kepada selain Al-Jama'ah serta memisahkan diri darinya, berarti dia
telah menanggalkan ribqah (tali) Islam dari lehernya sehingga dia menjadi orang
yang sesat lagi menyesatkan.

Redaksi 2

والأساس الذي بينا عليه
الجماعة هم أصحاب محمد صلى الله عليه و سلم رحمهم الله أجمعين وهم أهل السنة والجماعة
فمن لم يأخذ عنهم فقد ضل وابتدع وكل بدعة ضلالة والضلال وأهله في النار قال عمر بن الخطاب رضي الله عنه لا عذر لأحد في ضلاله ركبها
حسبها هدى ولا في هدى تركه حسبه ضلاله فقد بينت الأمور وثبتت الحجة وانقطع العذر وذلك
أن السنة والجماعة قد أحكما أمر الدين كله وتبين للناس فعلى الناس الاتباع

Dan asas yang dibangun di atasnya Al-Jama'ah adalah para sahabat Muhammad Shalallahu Alaihi Wasallam radhiallahu 'anhum Ajma'in.
Mereka itulah Ahlus Sunnah wal Jama'ah. Barangsiapa yang tidak mengambil dari
mereka berarti dia telah sesat dan berbuat bid'ah, dan setiap bid'ah adalah
sesat, dan setiap kesesatan serta pelakunya tempatnya di Neraka.

Berkata Umar bin Al Khattab:
"Tidak ada uzur (alasan) bagi seseorang pun dalam kesesatan yang ia kerjakan karena dia sangka sebagai petunjuk, dan tidak pula dalam petunjuk yang ia tinggalkan karena ia sangka sebagai kesesatan, sebab semua perkara telah dijelaskan, hujjah telah tegak dan telah terputus uzur. Yang demikian itu dikarenakan As-Sunnah dan Al-Jama'ah telah menjelaskan semua perkara agama ini
dan telah jelas bagi manusia maka kewajiban manusia adalah tinggal mengikuti".

Redaksi 3

واعلم رحمك الله أن الدين
إنما جاء من قبل الله تبارك وتعالى لم يوضع على عقول الرجال وآرائهم وعلمه عند الله
وعند رسوله فلا تتبع شيئا بهواك فتمرق من الدين فتخرج من الإسلام فإنه لا حجة لك فقد
بين رسول الله صلى الله عليه و سلم لأمته السنة وأوضحها لأصحابه وهم الجماعة وهم السواد
الأعظم والسواد الأعظم الحق وأهله فمن خالف أصحاب رسول الله صلى الله عليه و سلم في
شيء من أمر الدين فقد كفر

Ketahuilah ! Semoga Allah merahmatimu, sesungguhnya agama
ini datang dari sisi Allah Tabaraka wa Ta'ala tidak diletakkan di atas akal
maupun pemikiran seseorang. Ilmunya ada di sisi Allah dan Rasul-Nya. Janganlah
sekali-kali kamu mengikuti sesuatu dengan hawa nafsumu yang akan menyebabkan
kamu terlempar dari agama ini sehingga kamu keluar dari Islam. Karena
sesungguhnya tidak ada hujjah bagimu, Rasulullah telah menjelaskan Sunnah
kepada umat ini dan menerangkan kepada shahabat-shahabatnya, mereka itulah
Al-Jama'ah, dan mereka itulah As Sawadul A'dham. As Sawadul A'dham adalah
al-haq dan ahlinya. Barangsiapa yang menyelisihi shahabat Rasulullah pada suatu
permasalahan dari agama ini maka dia telah kafir.

Redaksi 4

واعلم أن الناس لم يبتدعوا بدعة قط حتى تركوا من السنة مثلها فاحذر المحرمات من الأمور فإن كل محدثة بدعة وكل بدعة ضلالة والضلالة وأهلها في النار

Ketahuilah, tidaklah manusia memunculkan kebid'ahan hingga mereka meninggalkan sunnah yang semisalnya. Hati-hatilah terhadap perkara-perkara yang diada-adakan, karena sesungguhnya setiap perkara yang diada-adakan itu bid'ah dan setiap bid'ah adalah sesat, dan setiap kesesatan dan pelakunya di Neraka.

Redaksi 5

واحذر صغار المحدثات من الأمور فإن صغار البدع تعود حتى تصير كبارا وكذلك كل بدعة أحدثت في هذه الأمة كان أولها صغيرا يشبه الحق فاغتر بذلك من دخل فيها ثم لم يستطع المخرج منها فعظمت وصارت دينا يدان بها فخالف الصراط المستقيم فخرج من الإسلام فانظر رحمك الله كل من سمعت كلامه من أهل زمانك خاصة فلا تعجلن ولا تدخلن في شيء منه حتى تسأل وتنظر هل تكلم فيه أحد من أصحاب النبي صلى الله عليه و سلم أو أحد من العلماء فإن أصبت فيه أثرا عنهم فتمسك به ولا تجاوزه لشيء ولا تختر عليه شيئا فتسقط في النار

Hati-hatilah terhadap perkara yang diada-adakan meskipun kecil, karena sesungguhnya bid'ah yang kecil itu terus terulang hingga akhirnya menjadi besar. Demikian pula setiap bid'ah yang dimunculkan pada umat ini, pada awalnya adalah kecil menyerupai kebenaran sehingga terkecoh orang yang masuk kepadanya, kemudian ia tidak mampu untuk keluar darinya dan akhirnya bid'ah tersebut menjadi ajaran agama yang dianut, menyelisihi Shiratal Mustaqim hingga akhirnya ia keluar dari Islam.

Telitilah ! Semoga Allah merahmatimu. Setiap orang yang engkau dengar perkataanya khususnya orang-orang yang hidup di zamanmu, janganlah kamu tergesa-gesa dan jangan sampai kamu masuk kedalamnya sedikitpun, sampai kamu tanyakan dan kamu teliti apakah ada salah seorang dari kalangan shahabat atau salah seorang dari ulama yang berbicara tentang masalah itu ? Apabila ada atsar dari mereka yang membenarkan hal itu maka peganglah atsar tersebut erat-erat, jangan kamu lampaui sedikitpun dan jangan kamu utamakan sesuatupun daripadanya sehingga kamu akan terjerumus ke dalam Neraka.

(Dikutib dari Kitab Syarhus Sunnah oleh Imam Barbahari)
READ MORE - Sesungguhnya Islam adalah Sunnah dan Sunnah adalah Islam, yang menyelisihi sunnah adalah bid'ah. Maka bid'ah bukanlah Islam.

DA'WAH YANG PERTAMA ADALAH (AJAKAN) UNTUK BERSAKSI "LA ILAHA ILLALLAH"

Bismillahirrahmanirrahim

Katakanlah:
"Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak
(kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha suci Allah, dan aku tiada
Termasuk orang-orang yang musyrik".( QS. Yusuf : 108)

عن ابن عباس رضي الله عنهما،
أن رسول الله صلى الله عل...يه وسلم، لما بعث معاذاً إلى اليمن قال له: (إنك تأتي قوماً
من أهل الكتاب فليكن أول ما تدعوهم إليه شهادة أن لا إله إلا الله ـ وفي رواية: إلى
أن يوحدوا الله ـ فإن هم أطاعوك لذلك، فأعلمهم أن الله افترض عليهم خمس صلوات في كل
يوم وليلة، فإن هم أطاعوك لذلك: فأعلمهم أن الله افترض عليهم صدقة تؤخذ من أغنيائهم
فترد على فقرائهم، فإن هم أطاعوك لذلك فإياك وكرائم أموالهم، واتق دعوة المظلوم، فإنه
ليس بينها وبين الله حجاب) أخرجاه.

Dari Ibnu Abbas r.a. menyatakan, bahwa Rasulullah ketika mengutus Mua'zd
ke Yaman, beliau bersabda kepadanya:

"Sungguh, kamu akan mendatangi kaum Ahli Kitab, maka hendaklah
pertama kali da'wah yang kamu sampaikan kepada mereka ialah syahadat "La
ilaha illallah" dalam riwayat lain disebutkan: "Supaya mereka
mentauhidkan Allah. Jika mereka telah mematuhi apa yang kamu dakwahkan itu,
maka sampaikanlah kepada mereka bahwa Allah mewajibkan kepada mereka shalat lima waktu sehari semalam. Jika mereka telah mematuhi apa yang kamu dakwahkan itu, maka sampaikanlah
kepada mereka bahwa Allah mewajibkan kepada mereka zakat yang diambil dari
orang-orang kaya di antara mereka untuk diberikan kepada orang-orang faqir. Dan
jika mereka telah mematuhi apa yang kamu sampaikan itu, maka jauhkanlah dirimu
dari harta pilihan mereka, dan jagalah dirimu dari do'a orang mahhzum (teraniaya),
karena sesungguhnya tiada suatu hijab (penghalang) antara doanya dan
Allah". (HR. Bukhari dan Muslim)

عن سهل بن سعد رضي الله
عنه، أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال يوم خيبر: (لأعطين الراية غداً رجلاً يحب
الله ورسوله، ويحبه الله ورسوله، يفتح الله على يديه. فبات الناس يدوكون ليلتهم أيهم
يعطاها. فلما أصبحوا غدوا على رسول الله صلى الله عليه وسلم كلهم يرجو أن يعطاها. فقال:
(أين علي بن أبي طالب؟) فقيل: هو يشتكي عينيه، فأرسلوا إليه، فأتى به فبصق في عينيه،
ودعا له، فبرأ كأن لم يكن به وجع، فأعطاه الراية فقال: (انفذ على رسلك حتى تنزل بساحتهم،
ثم ادعهم إلى الإسلام وأخبرهم بما يجب عليهم من حق الله تعالى فيه، فوالله لأن يهدي
الله بك رجلاً واحداً، خير لك من حمر النعم).

Dari Sahl bin Sa'ad, r.a. bahwa Rasulullah semasa perang khaibar
bersabda :

"Demi Allah, niscaya akan kuserahkan bendera (komando perang) ini
besok hari kepada orang yang mencintai Allah serta Rasul-Nya dan dia dicintai
Allah serta Rasul-Nya; semoga Allah menganugerahkan kemenangan melalui
tangannya. Maka semalam suntuk orang-orangpun memperbincangkan siapakah
diantara mereka yang akan diserahi bendera itu. Pagi harinya, mereka mendatangi
Rasulullah, masing-masing berharap untuk diserahi bendera tersebut. Lalu,
bersabdalah beliau: "Dimana Ali bin Abu Thalib ? Dijawab: "Dia sakit
kedua belah matanya". Merekapun mengutus seorang utusan kepadanya dan
didatangkanlah dia. Lantas Nabi meludah pada kedua belah matanya dan berdoa
untuknya, seketika itu dia sembuh seakan-akan tidak pernah terkena penyakit.
Lalu Rasulullah menyerahkan kepadanya bendera dan bersabda: "Melangkahlah
ke depan dengan tenang sampai kamu tiba ditempat mereka, kemudian ajaklah
mereka kepada Islam, dan sampaikanlah kepada mereka hak Allah Ta'ala dalam
Islam yang wajib mereka laksanakan. Demi Allah, bahwa Allah memberi petunjuk
satu orang lewat dirimu, benar-benar lebih baik bagimu daripada unta-unta
merah. (HR. Bukhari dan Muslim)
READ MORE - DA'WAH YANG PERTAMA ADALAH (AJAKAN) UNTUK BERSAKSI "LA ILAHA ILLALLAH"

Orang-orang yang riya dan sum'ah tidak dapat bersujud.

PERHITUNGAN AMAL SEBELUM DILAKSANAKAN HISAB ORANG-ORANG KAFIR SUDAH DIPISAH DARI ORANG-ORANG BERIMAN

Kemudian seorang penyeru menyerukan : “Hendaklah setiap kaum ( golongan ) pergi ke arah kolompok yang mereka sembah”. Maka penyembah salib pergi bersama sembahan salib mereka. Penyembah patung pergi bersama sembahan patung mereka. Penyembah berhala pergi bersama berhala mereka. Hingga tertinggal ( tersisa ) orang-orang yang menyembah Allah dari kalangan orang-orang yang baik atau orang-orang yang berdosa dan sisa-sisa Ahli Kitab. Kemudian neraka digiring yang seakan-akan fatamorgana yang dihadapkan. Maka dikatakan kepada orang-orang Yahudi : “Apa yang kalian sembah ?”. Mereka menjawab : “’Uzair anak Allah”. Lalu dikatakan : “Kalian dusta. Allah tidak mempunyai teman dan anak. Lantas apakah yang kalian inginkan ?”. Mereka menjawab : “Kami mau diberi minuman”. Kemudian dikatakan : “Minumlah !”. Lantas merekapun berjatuhan di Nereka Jahannam. Kemudian dikatakan kepada orang-orang Nashrani : “Apa yang kalian sembah ?”. Mereka menjawab : “Kami menyembah Al Masih ( Isa ) anak Allah”. Lalu dikatakan : “Kalian dusta. Allah tidak mempunyai teman dan anak. Maka apakah yang kalian inginkan ?”. Merekapun menjawab : “Kami ingin diberi minum”. Lantas dikatakan : “Minumlah!”. Lantas merekapun berjatuhan di Neraka Jahannam. Sehingga tinggallah orang-orang yang menyembah Allah dari kalangan orang-orang yang baik dan orang-rang yang berdosa. Lalu dikatakan kepada mereka : “Apakah yang menahan kalian ? Padahal sesungguhnya orang-orang sudah pergi”. Lantas mereka menjawab : “Kami tinggalkan mereka dan pada hari ini di antara kami ada yang lebih membutuh untuk bertahan. Dan sebenarnya kami telah mendengar seorang penyeru yang menyerukan : “Setiap kaum hendaklah menemui apa yang mereka sembah”. Dan sesungguhnya kami hanya menunggu Tuhan kami”. Lalu Al Jabbar ( Tuhan Yang Maha Pemaksa ) mendatangi mereka dalam bentuk yang bukan bentukNya untuk pertama kali. Lantas Dia berkata : “Aku Tuhan kalian”. Merekapun menjawab : “Engkau Tuhan kami”. ( Pada saat itu ) tidak ada yang berani berbicara kecuali para Nabi. Mereka bertanya : “Antara kalian dengan Dia adakah tanda yang dapat kalian kenal ?”. Merekapun menjawab : “Betis”. Lalu Dia singkap betisNya. Maka setiap mukminpun bersujud padaNya. Dan yang tertinggal ( tidak dapat sujud ) adalah orang-orang yang bersujud kepada Allah karena riya dan sum’ah. Lalu mereka pergi untuk bersujud ( lagi ). Namun tulang belakang mereka kembali lurus. ( H.R. Bukhari )
READ MORE - Orang-orang yang riya dan sum'ah tidak dapat bersujud.