Berkata Imam Ahmad rahimahullah:
"Pokok-pokok As Sunnah menurut kami adalah berpegang teguh dengan apa yang dipegang oleh para sahabat Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam serta mengikuti mereka."
(Al Lalikaai dalam Syarh Ushul I'tiqad Ahlus Sunnah (317) dan Ibnul Jauzi dalam Manaqib Ahmad (hal.23)
Allah Ta'ala berfirman:
وَالسَّابِقُونَ الأوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالأنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ
رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْه
' Dan orang-orang yang mengikuti petunjuk merekalah yang akan memperoleh ridha Allah. Allah Ta'a/a berfirman: "Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) diantara orang-orang muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah." (QS. At Taubah: 100)
Dan telah ditegaskan dalam suatu hadits bahwa masa (kurun waktu) yang dipergunakan sebagai standar dalam memahami nash adalah masa tiga generasi terbaik (shahabat, tabi'in, dan tabi'ut tabi'in). Tidak boleh seorangpun menyelisihi mereka dengan mengada-adakan pemahaman yang baru yang tidak dipahami oleh mereka.
Hadits yang dimaksud adalah dari Ibnu Mas'ud radhiallaahu 'anhu bahwasanya Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam bersabda:
خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِى ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ
ثُمَّ يَجِىءُ قَوْمٌ تَسْبِقُ شَهَادَةُ أَحَدِهِمْ يَمِينَهُ وَيَمِينُهُ شَهَادَتَهُ
"Sebaik-baik manusia adalah generasiku, kemudian orang-orang yang mengikuti mereka, kemudian orang-orang yang mengikuti mereka. Kemudian datang suatu kaum yang persaksian salah seorang dari mereka mendahului sumpahnya dan sumpahnya mendahului persaksiannya.'"
(HR. Bukhari dan Muslim)
Al Imam Abdul Hamid bin Badis rahimahullah berkata:
"Islam itu sesungguhnya hanya ada di dalam Al Qur'an, Sunnah Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam dan apa yang dilakukan oleh para salaf dari tiga generasi yang dipersaksikan kebaikannya lewat ucapan Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam."
(Atsar Imam 'Abdul Hamid bin Baadiis (5/73)
Pokok pegangan ini memiliki pandangan dan dalil dari Al Qur'an dan As Sunnah, di antaranya firman Allah Ta'ala:
وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى
وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيرًا
"Barangsiapa yang mendurhakai Rasul setelah jelas kebenaran baginya dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam jahannam, dan jabannam itu adalah seburuk-buruk tempat kembali." (QS An Nisaa': 115)
Nampak dari ayat ini adanya penggabungan antara menjauhi jalannya orang-orang yang beriman dengan penentangan terhadap Rasul, menyebabkan munculnya ancaman yang sangat keras.
Padahal sebenarnya tindakan menentang Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam saja sudah cukup untuk mendapatkan kerugian yang sangat besar sebagaimana yang dijelaskan oleh Allah Ta'ala di dalam firman-Nya:
إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا وَصَدُّوا عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ وَشَاقُّوا الرَّسُولَ
مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمُ الْهُدَى لَنْ يَضُرُّوا اللَّهَ شَيْئًا وَسَيُحْبِطُ أَعْمَالَهُمْ
"Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan menghalangi (manusia) dan jalan Allah serta memusuhi Rasul setelah petunjuk itu jelas bagi mereka, mereka tidak dapat memberi mudharat kepada Allah sedikitpun. Dan Allah akan menghapus (pahala) amal-amal mereka." (QS. Muhammad: 32)
Sumber:
Sittu Dhuror Min Ushuuli Ahlil Atsar
Abdul Malik Bin Ahmad Ramdhani
"Pokok-pokok As Sunnah menurut kami adalah berpegang teguh dengan apa yang dipegang oleh para sahabat Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam serta mengikuti mereka."
(Al Lalikaai dalam Syarh Ushul I'tiqad Ahlus Sunnah (317) dan Ibnul Jauzi dalam Manaqib Ahmad (hal.23)
Allah Ta'ala berfirman:
وَالسَّابِقُونَ الأوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالأنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ
رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْه
' Dan orang-orang yang mengikuti petunjuk merekalah yang akan memperoleh ridha Allah. Allah Ta'a/a berfirman: "Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) diantara orang-orang muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah." (QS. At Taubah: 100)
Dan telah ditegaskan dalam suatu hadits bahwa masa (kurun waktu) yang dipergunakan sebagai standar dalam memahami nash adalah masa tiga generasi terbaik (shahabat, tabi'in, dan tabi'ut tabi'in). Tidak boleh seorangpun menyelisihi mereka dengan mengada-adakan pemahaman yang baru yang tidak dipahami oleh mereka.
Hadits yang dimaksud adalah dari Ibnu Mas'ud radhiallaahu 'anhu bahwasanya Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam bersabda:
خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِى ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ
ثُمَّ يَجِىءُ قَوْمٌ تَسْبِقُ شَهَادَةُ أَحَدِهِمْ يَمِينَهُ وَيَمِينُهُ شَهَادَتَهُ
"Sebaik-baik manusia adalah generasiku, kemudian orang-orang yang mengikuti mereka, kemudian orang-orang yang mengikuti mereka. Kemudian datang suatu kaum yang persaksian salah seorang dari mereka mendahului sumpahnya dan sumpahnya mendahului persaksiannya.'"
(HR. Bukhari dan Muslim)
Al Imam Abdul Hamid bin Badis rahimahullah berkata:
"Islam itu sesungguhnya hanya ada di dalam Al Qur'an, Sunnah Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam dan apa yang dilakukan oleh para salaf dari tiga generasi yang dipersaksikan kebaikannya lewat ucapan Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam."
(Atsar Imam 'Abdul Hamid bin Baadiis (5/73)
Pokok pegangan ini memiliki pandangan dan dalil dari Al Qur'an dan As Sunnah, di antaranya firman Allah Ta'ala:
وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى
وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيرًا
"Barangsiapa yang mendurhakai Rasul setelah jelas kebenaran baginya dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam jahannam, dan jabannam itu adalah seburuk-buruk tempat kembali." (QS An Nisaa': 115)
Nampak dari ayat ini adanya penggabungan antara menjauhi jalannya orang-orang yang beriman dengan penentangan terhadap Rasul, menyebabkan munculnya ancaman yang sangat keras.
Padahal sebenarnya tindakan menentang Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam saja sudah cukup untuk mendapatkan kerugian yang sangat besar sebagaimana yang dijelaskan oleh Allah Ta'ala di dalam firman-Nya:
إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا وَصَدُّوا عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ وَشَاقُّوا الرَّسُولَ
مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمُ الْهُدَى لَنْ يَضُرُّوا اللَّهَ شَيْئًا وَسَيُحْبِطُ أَعْمَالَهُمْ
"Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan menghalangi (manusia) dan jalan Allah serta memusuhi Rasul setelah petunjuk itu jelas bagi mereka, mereka tidak dapat memberi mudharat kepada Allah sedikitpun. Dan Allah akan menghapus (pahala) amal-amal mereka." (QS. Muhammad: 32)
Sumber:
Sittu Dhuror Min Ushuuli Ahlil Atsar
Abdul Malik Bin Ahmad Ramdhani

Tidak ada komentar:
Posting Komentar