Harmonis adalah perpaduan dari berbagai warna karakter yang
membentuk kekuatan eksistensi sebuah benda. Perpaduan inilah
yang membuat warna apa pun bisa cocok menjadi rangkaian yang
indah dan serasi.
Warna hitam, misalnya, kalau berdiri sendiri akan menimbulkan
kesan suram dan dingin. Jarang orang menyukai warna hitam
secara berdiri sendiri. Tapi, jika berpadu dengan warna putih,
akan memberikan corak tersendiri yang bisa menghilangkan
kesan suram dan dingin tadi. Perpaduan hitam-putih jika ditata
secara apik, akan menimbulkan kesan dinamis, gairah, dan hangat.
Seperti itulah seharusnya rumah tangga dikelola. Rumah tangga
merupakan perpaduan antara berbagai warna karakter. Ada karakter pria,
wanita, anak-anak, bahkan mertua. Dan tak ada satu pun manusia di dunia
ini yang bisa menjamin bahwa semua karakter itu serba sempurna.
Pasti ada kelebihan dan kekurangan.
Nah, di situlah letak keharmonisan. Tidak akan terbentuk irama yang
indah tanpa adanya keharmonisan antara nada rendah dan tinggi.
Tinggi rendah nada ternyata mampu melahirkan berjuta-juta lagu
yang indah.
Dalam rumah tangga, segala kekurangan dan kelebihan saling berpadu.
Kadang pihak suami yang bernada rendah, kadang isteri bernada tinggi.
Di sinilah suami-isteri dituntut untuk menciptakan keharmonisan
dengan mengisi kekosongan-kekosong an yang ada di antar mereka.
Ada empat hal yang mesti diperhatikan untuk menciptakan
keharmonisan rumah tangga.keempatnya adalah:
1. Jangan melihat ke belakang
Jangan pernah mengungkit-ungkit alasan saat awal menikah.
“Kenapa saya waktu itu mau nerima aja, ya? Kenapa nggak saya tolak?”
Buang jauh-jauh lintasan pikiran ini.
Langkah itu sama sekali tidak akan menghasilkan perubahan.
Justru, akan menyeret ketidakharmonisan yang bermula dari masalah
sepele menjadi pelik dan kusut. Jika rasa penyesalan berlarut,
tidak tertutup kemungkinan ketidakharmonisan berujung pada perceraian.
Karena itu, hadapilah kenyataan yang saat ini kita hadapi. Inilah masalah kita.
Jangan lari dari masalah dengan melongkok ke belakang. Atau, na’udzubillah,
membayangkan sosok lain di luar pasangan kita. Hal ini akan membuka pintu
setan sehingga kian meracuni pikiran kita.
2. Berpikir objektif
Kadang, konflik bisa menyeret hal lain yang sebetulnya tidak terlibat.
Ini terjadi karena konflik disikapi dengan emosional. Apalagi sudah
melibatkan pihak ketiga yang mengetahui masalah internal rumah
tangga tidak secara utuh.
Jadi, cobalah lokalisir masalah pada pagarnya. Lebih bagus lagi jika
dalam memetakan masalah ini dilakukan dengan kerjasama dua belah
pihak yang bersengketa. Tentu akan ada inti masalah yang perlu dibenahi.
Misalnya, masalah kurang penghasilan dari pihak suami. Jangan disikapi
emosional sehingga menyeret masalah lain. Misalnya, suami yang tidak
becus mencari duit atau suami dituduh sebagai pemalas. Kalau ini terjadi,
reaksi balik pun terjadi. Suami akan berteriak bahwa si isteri bawel,
materialistis, dan kurang pengertian.
Padahal kalau mau objektif, masalah kurang penghasilan bisa disiasati
dengan kerjasama semua pihak dalam rumah tangga. Tidak tertutup
kemungkinan, isteri pun ikut mencari penghasilan, bahkan bisa sekaligus
melatih kemandirian anak-anak.
3. Lihat kelebihan pasangan, jangan sebaliknya
Untuk menumbuhkan rasa optimistis, lihatlah kelebihan pasangan kita.
Jangan sebaliknya, mengungkit-ungkit kekurangan yang dimiliki.
Imajinasi dari sebuah benda, bergantung pada bagaimana kita meletakkan
sudut pandangnya.
Mungkin secara materi dan fisik, pasangan kita mempunyai banyak kekurangan.
Rasanya sulit sekali mencari kelebihannya. Tapi, di sinilah uniknya berumah
tangga. Bagaimana mungkin sebuah pasangan suami isteri yang tidak saling
cinta bisa punya anak lebih dari satu.
Berarti, ada satu atau dua kelebihan yang kita sembunyikan dari pasangan kita.
Paling tidak, niat ikhlas dia dalam mendampingi kita karena Allah sudah
merupakan kelebihan yang tiada tara . Luar biasa nilainya di sisi Allah.
Nah, dari situlah kita memandang. Sambil jalan, segala kekurangan
pasangan kita itu dilengkapi dengan kelebihan yang kita miliki.
Bukan malah menjatuhkan atau melemahkan semangat untuk berubah.
4. Sertakan sakralitas berumah tangga
Salah satu pijakan yang paling utama seorang rela berumah tangga
adalah karena adanya ketaatan pada syariat Allah. Padahal, kalau
menurut hitung-hitungan materi, berumah tangga itu melelahkan.
Justru di situlah nilai pahala yang Allah janjikan.
Ketika masalah nyaris tidak menemui ujung pangkalnya, kembalikanlah
itu kepada sang pemilik masalah, Allah swt. Pasangkan rasa baik sangka
kepada Allah swt. Tataplah hikmah di balik masalah. Insya Allah, ada
kebaikan dari semua masalah yang kita hadapi.
Lakukanlah pendekatan ubudiyah. Jangan bosan dengan doa. Bisa jadi,
dengan taqarrub pada Allah, masalah yang berat bisa terlihat ringan.
Dan secara otomatis, solusi akan terlihat di depan mata. Insya Allah!
Rumah tangga idaman muslim, selain memberikan ketenteraman atau sakinah, juga penuh dengan rasa cinta alias mawaddah. Perasaan cinta adalah fitrah antara laki-laki dan perempuan. Allah mengistilahkan sebagai sebuah ‘kecenderungan’ untuk saling tertarik, dan kemudian tenteram karenanya.
Cinta memang cenderung bermakna fisikal. Karena itu, Rasulullah mewanti-wanti agar suami atau istri selalu menjaga penampilannya di hadapan pasangannya. Bukan hanya ketika ada orang lain. Tetapi ketika di rumah.
Rasulullah mengingatkan begini:
Cucilah bajumu, cukurlah rambutmu, bersihkan mulutmu, berhias dan bersucilah. Bani Israil tidak pernah melakukan seperti itu, sehingga istri mereka berzina.
Jadi menjaga penampilan sangatlah perlu dan dianjurkan di dalam Islam. Karena itu, agama Islam sangat memperhatikan soal kebersihan, kerapian dan kesucian. Bahkan setiap hari 5 kali kita diperintahkan untuk membersihkan dan mensucikan diri, lewat aktivitas wudhu dan shalat wajib.
Penampilan yang buruk dan jorok bakal mendorong terjadinya masalah dengan pasangan kita. Bahkan bisa mendorong munculnya ketidakpuasan dan terjadinya perselingkuhan. Baik pada istri maupun suami. Mereka merasa orang lain lebih menarik dari pada pasangannya.
Nah, Islam sangat menganjurkan agar kita memupuk rasa cinta itu. Rasa kesenangan dan kebahagiaan yang dipengaruhi oleh faktor fisik. Termasuk hal-hal yang berkait dengan penampilan, kebersihan, kelembutan ucapan, dan kepuasan hubungan biologis.
Salah satu tujuan perkawinan memang adalah menyalurkan hasrat cinta. Sebuah hal yang menjadi fitrah manusia. Sehingga Rasulullah bersabda:
Wahai generasi muda, barangsiapa di antara kamu telah mampu kawin, maka kawinlah, karena kawin dapat menjaga mata dan kemaluanmu (dari berbuat zina.)
Ini sangat manusiawi. Apalagi pada anak-anak muda yang sedang dalam dorongan libido sangat tinggi. Perkawinan digunakan untuk menyalurkan hasrat secara lebih mulia dan terhormat. Bisa menghindarkan dari perbuatan zina yang merusak budaya dan kesehatan masyarakat.
Maka, rumah tangga Islam harus dibina supaya tetap ‘membara dalam cinta’. Harus menjadi ‘surga dunia’ dalam hubungan cinta. Jangan sampai ada yang lebih menarik daripada suami atau istri kita.
Karena itu, Rasulullah menasehati kita agar benar-benar menjaga kehamonisan. Dimulai dari bertutur kata yang halus. Bersikap lembut. Bahkan selalu menampakkan pandangan mesra kepada istri atau suami.
Sebab, tutur kata dan sikap yang kasar akan menyakitkan hati. Dan ini akan sangat berpengaruh pada hubungan selanjutnya yang lebih intim. Bisa menyebabkan tidak 'mood' pada saat bermesraan. Dan muncul ganjalan hati.
Rasulullah selain berpenampilan bersih dan harum, selalu berkata lemah lembut kepada istrinya. Bahkan suka menggunakan panggilan-panggilan kesayangan kepada istrinya. Misalnya, beliau menyebut Siti Aisyah dengan Humairah, ‘Yang Bersemu Merah’.
Itu adalah bumbu kemesraan, yang akan terus menjadikan cinta tetap membara dalam rumah tangga kita. Memunculkan kemesraan dan kerinduan sepanjang waktu. Sehingga beliau bersabda begini untuk umatnya: Hanya lelaki yang mulia yang berlaku lemah lembut kepada istrinya. Sebaliknya hanya lelaki yang hina yang suka bersikap kasar kepada istrinya.
Bahkan dalam hal bermesraan dengan istri beliau memberi nasehat begini:
Apabila salah seorang di antaramu menggauli istrinya; maka hendaklah ia melakukan dengan tulus. Dan jika ia telah mencapai hajatnya (orgasme) sebelum istrinya mencapai (orgasme) hendaklah dia bersabar sampai istrinya menyelesaikan pula.
Begitulah Rasulullah mengajarkan sikap penuh cinta dan saling memperhatikan pasangannya. Bukan hanya kepentingan dirinya sendiri. Insya, Allah dengan cara ini, kita bisa menjaga rumah tangga kita sebagai surga dunia. Rumah tangga yang mawaddah, penuh cinta membara.
Selain itu, jangan ragu-ragu untuk selalu memberikan yang terbaik buat suami atau istri. Berikanlah apa yang paling disukainya. Karena, itu semua akan menenteramkan dan membahagiakannya.
Jangan canggung untuk memberikan cinta terbaik yang kita miliki, kepadanya. Ia adalah milik kita. Dan kita adalah miliknya. Sehingga Allah berfirman kepada kita di dalam Al-Qur’an untuk menghilangkan keraguan itu.
QS. Al Baqarah (2): 223
Isteri-isterimu adalah sawah ladang bagimu, maka datangilah sawah ladangmu itu sesukamu. Dan lakukanlah (yang terbaik) untuk dirimu, dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa kamu kelak akan menemui-Nya. Dan berilah kabar gembira orang-orang yang beriman.
Namun demikian, Rasulullah memberikan tips praktis kepada kita dalam berhubungan suami istri. Intinya janganlah kita semuanya hari ini. Mesti ada sedikit-sedikit yang dirahasiakan. Untuk diberikan di kesempatan yang berbeda.
Sesuatu yang sudah ‘blak-blakan’ diberikan semua, menjadi kurang 'curious' dan menggairahkan. Cepat bosan. Dan tidak ada tantangannya lagi. Sehingga, Siti Aisyah pernah berkata, bahwa dia dan Rasulullah selalu dalam keadaan yang tertutupi sebagian ketika bercinta dengannya. Lebih menarik. Lebih artistik. Dan menggairahkan.
Namun demikian semua itu berpulang kepada masing-masing individu. Ada yang senang blak-blakan. Ada juga yang senang sedikit tersembunyi. Toh semuanya sudah menjadi milik kita. Mau diapakan saja silakan...
Begitulah rumah tangga Islam. Harus dikelola secara baik dan penuh cinta. Bukan hanya untuk sekarang, melainkan untuk selama-lamanya, sampai maut memisahkan keduanya.
Yang juga perlu dipahami, barangkali adalah kecenderungan kesenangan antara laki-laki dan perempuan. Dalam bercinta, laki-laki dan perempuan memiliki ukuran kepuasan yang sedikit berbeda.
Laki-laki lebih mementingkan tercapainya orgasme, sedangkan perempuan lebih kepada perasaan disayangi dan dicintai. Karena itu, seorang perempuan bisa merasakan kepuasan, meski tidak mencapai orgasme seperti lelaki. Walaupun, jika ia mencapai orgasme akan lebih komplet kebahagiaannya.
Perasaan diperhatikan dan disayangi suami, dan sekaligus bisa melayani atau membahagiakan suami, seringkali lebih dominan dalam mendorong kepuasan seorang istri. Akan tetapi, pada seorang lelaki, orgasme merupakan kepuasan puncaknya. Jika tidak tercapai bisa ‘sakit kepala’
Karena itu Rasulullah mengingatkan kepada para istri untuk memahami hal ini. Jangan sampai ketika dibutuhkan oleh suami, tidak mau melayani. Meskipun dengan alasan sedang berpuasa atau ibadah.
Rasulullah bersabda demikian:
Satu hari pun seorang istri tidak boleh berpuasa tanpa ijin dari suaminya, jika suaminya sedang berada di rumah. Kecuali pada bulan Ramadhan. [HR. Ahmad Bukhari & Muslim]
Demikian pentingnya kepuasan seorang suami atas istrinya, sehingga mengalahkan puasa sunnah. Dan Allah mencurahkan ridhaNya atas seorang istri yang taat kepada suami demi kebahagiaan rumah tangganya. Keluarga yang mawaddah, yang penuh cinta membara..
Sumber : internet...
membentuk kekuatan eksistensi sebuah benda. Perpaduan inilah
yang membuat warna apa pun bisa cocok menjadi rangkaian yang
indah dan serasi.
Warna hitam, misalnya, kalau berdiri sendiri akan menimbulkan
kesan suram dan dingin. Jarang orang menyukai warna hitam
secara berdiri sendiri. Tapi, jika berpadu dengan warna putih,
akan memberikan corak tersendiri yang bisa menghilangkan
kesan suram dan dingin tadi. Perpaduan hitam-putih jika ditata
secara apik, akan menimbulkan kesan dinamis, gairah, dan hangat.
Seperti itulah seharusnya rumah tangga dikelola. Rumah tangga
merupakan perpaduan antara berbagai warna karakter. Ada karakter pria,
wanita, anak-anak, bahkan mertua. Dan tak ada satu pun manusia di dunia
ini yang bisa menjamin bahwa semua karakter itu serba sempurna.
Pasti ada kelebihan dan kekurangan.
Nah, di situlah letak keharmonisan. Tidak akan terbentuk irama yang
indah tanpa adanya keharmonisan antara nada rendah dan tinggi.
Tinggi rendah nada ternyata mampu melahirkan berjuta-juta lagu
yang indah.
Dalam rumah tangga, segala kekurangan dan kelebihan saling berpadu.
Kadang pihak suami yang bernada rendah, kadang isteri bernada tinggi.
Di sinilah suami-isteri dituntut untuk menciptakan keharmonisan
dengan mengisi kekosongan-kekosong an yang ada di antar mereka.
Ada empat hal yang mesti diperhatikan untuk menciptakan
keharmonisan rumah tangga.keempatnya adalah:
1. Jangan melihat ke belakang
Jangan pernah mengungkit-ungkit alasan saat awal menikah.
“Kenapa saya waktu itu mau nerima aja, ya? Kenapa nggak saya tolak?”
Buang jauh-jauh lintasan pikiran ini.
Langkah itu sama sekali tidak akan menghasilkan perubahan.
Justru, akan menyeret ketidakharmonisan yang bermula dari masalah
sepele menjadi pelik dan kusut. Jika rasa penyesalan berlarut,
tidak tertutup kemungkinan ketidakharmonisan berujung pada perceraian.
Karena itu, hadapilah kenyataan yang saat ini kita hadapi. Inilah masalah kita.
Jangan lari dari masalah dengan melongkok ke belakang. Atau, na’udzubillah,
membayangkan sosok lain di luar pasangan kita. Hal ini akan membuka pintu
setan sehingga kian meracuni pikiran kita.
2. Berpikir objektif
Kadang, konflik bisa menyeret hal lain yang sebetulnya tidak terlibat.
Ini terjadi karena konflik disikapi dengan emosional. Apalagi sudah
melibatkan pihak ketiga yang mengetahui masalah internal rumah
tangga tidak secara utuh.
Jadi, cobalah lokalisir masalah pada pagarnya. Lebih bagus lagi jika
dalam memetakan masalah ini dilakukan dengan kerjasama dua belah
pihak yang bersengketa. Tentu akan ada inti masalah yang perlu dibenahi.
Misalnya, masalah kurang penghasilan dari pihak suami. Jangan disikapi
emosional sehingga menyeret masalah lain. Misalnya, suami yang tidak
becus mencari duit atau suami dituduh sebagai pemalas. Kalau ini terjadi,
reaksi balik pun terjadi. Suami akan berteriak bahwa si isteri bawel,
materialistis, dan kurang pengertian.
Padahal kalau mau objektif, masalah kurang penghasilan bisa disiasati
dengan kerjasama semua pihak dalam rumah tangga. Tidak tertutup
kemungkinan, isteri pun ikut mencari penghasilan, bahkan bisa sekaligus
melatih kemandirian anak-anak.
3. Lihat kelebihan pasangan, jangan sebaliknya
Untuk menumbuhkan rasa optimistis, lihatlah kelebihan pasangan kita.
Jangan sebaliknya, mengungkit-ungkit kekurangan yang dimiliki.
Imajinasi dari sebuah benda, bergantung pada bagaimana kita meletakkan
sudut pandangnya.
Mungkin secara materi dan fisik, pasangan kita mempunyai banyak kekurangan.
Rasanya sulit sekali mencari kelebihannya. Tapi, di sinilah uniknya berumah
tangga. Bagaimana mungkin sebuah pasangan suami isteri yang tidak saling
cinta bisa punya anak lebih dari satu.
Berarti, ada satu atau dua kelebihan yang kita sembunyikan dari pasangan kita.
Paling tidak, niat ikhlas dia dalam mendampingi kita karena Allah sudah
merupakan kelebihan yang tiada tara . Luar biasa nilainya di sisi Allah.
Nah, dari situlah kita memandang. Sambil jalan, segala kekurangan
pasangan kita itu dilengkapi dengan kelebihan yang kita miliki.
Bukan malah menjatuhkan atau melemahkan semangat untuk berubah.
4. Sertakan sakralitas berumah tangga
Salah satu pijakan yang paling utama seorang rela berumah tangga
adalah karena adanya ketaatan pada syariat Allah. Padahal, kalau
menurut hitung-hitungan materi, berumah tangga itu melelahkan.
Justru di situlah nilai pahala yang Allah janjikan.
Ketika masalah nyaris tidak menemui ujung pangkalnya, kembalikanlah
itu kepada sang pemilik masalah, Allah swt. Pasangkan rasa baik sangka
kepada Allah swt. Tataplah hikmah di balik masalah. Insya Allah, ada
kebaikan dari semua masalah yang kita hadapi.
Lakukanlah pendekatan ubudiyah. Jangan bosan dengan doa. Bisa jadi,
dengan taqarrub pada Allah, masalah yang berat bisa terlihat ringan.
Dan secara otomatis, solusi akan terlihat di depan mata. Insya Allah!
Rumah tangga idaman muslim, selain memberikan ketenteraman atau sakinah, juga penuh dengan rasa cinta alias mawaddah. Perasaan cinta adalah fitrah antara laki-laki dan perempuan. Allah mengistilahkan sebagai sebuah ‘kecenderungan’ untuk saling tertarik, dan kemudian tenteram karenanya.
Cinta memang cenderung bermakna fisikal. Karena itu, Rasulullah mewanti-wanti agar suami atau istri selalu menjaga penampilannya di hadapan pasangannya. Bukan hanya ketika ada orang lain. Tetapi ketika di rumah.
Rasulullah mengingatkan begini:
Cucilah bajumu, cukurlah rambutmu, bersihkan mulutmu, berhias dan bersucilah. Bani Israil tidak pernah melakukan seperti itu, sehingga istri mereka berzina.
Jadi menjaga penampilan sangatlah perlu dan dianjurkan di dalam Islam. Karena itu, agama Islam sangat memperhatikan soal kebersihan, kerapian dan kesucian. Bahkan setiap hari 5 kali kita diperintahkan untuk membersihkan dan mensucikan diri, lewat aktivitas wudhu dan shalat wajib.
Penampilan yang buruk dan jorok bakal mendorong terjadinya masalah dengan pasangan kita. Bahkan bisa mendorong munculnya ketidakpuasan dan terjadinya perselingkuhan. Baik pada istri maupun suami. Mereka merasa orang lain lebih menarik dari pada pasangannya.
Nah, Islam sangat menganjurkan agar kita memupuk rasa cinta itu. Rasa kesenangan dan kebahagiaan yang dipengaruhi oleh faktor fisik. Termasuk hal-hal yang berkait dengan penampilan, kebersihan, kelembutan ucapan, dan kepuasan hubungan biologis.
Salah satu tujuan perkawinan memang adalah menyalurkan hasrat cinta. Sebuah hal yang menjadi fitrah manusia. Sehingga Rasulullah bersabda:
Wahai generasi muda, barangsiapa di antara kamu telah mampu kawin, maka kawinlah, karena kawin dapat menjaga mata dan kemaluanmu (dari berbuat zina.)
Ini sangat manusiawi. Apalagi pada anak-anak muda yang sedang dalam dorongan libido sangat tinggi. Perkawinan digunakan untuk menyalurkan hasrat secara lebih mulia dan terhormat. Bisa menghindarkan dari perbuatan zina yang merusak budaya dan kesehatan masyarakat.
Maka, rumah tangga Islam harus dibina supaya tetap ‘membara dalam cinta’. Harus menjadi ‘surga dunia’ dalam hubungan cinta. Jangan sampai ada yang lebih menarik daripada suami atau istri kita.
Karena itu, Rasulullah menasehati kita agar benar-benar menjaga kehamonisan. Dimulai dari bertutur kata yang halus. Bersikap lembut. Bahkan selalu menampakkan pandangan mesra kepada istri atau suami.
Sebab, tutur kata dan sikap yang kasar akan menyakitkan hati. Dan ini akan sangat berpengaruh pada hubungan selanjutnya yang lebih intim. Bisa menyebabkan tidak 'mood' pada saat bermesraan. Dan muncul ganjalan hati.
Rasulullah selain berpenampilan bersih dan harum, selalu berkata lemah lembut kepada istrinya. Bahkan suka menggunakan panggilan-panggilan kesayangan kepada istrinya. Misalnya, beliau menyebut Siti Aisyah dengan Humairah, ‘Yang Bersemu Merah’.
Itu adalah bumbu kemesraan, yang akan terus menjadikan cinta tetap membara dalam rumah tangga kita. Memunculkan kemesraan dan kerinduan sepanjang waktu. Sehingga beliau bersabda begini untuk umatnya: Hanya lelaki yang mulia yang berlaku lemah lembut kepada istrinya. Sebaliknya hanya lelaki yang hina yang suka bersikap kasar kepada istrinya.
Bahkan dalam hal bermesraan dengan istri beliau memberi nasehat begini:
Apabila salah seorang di antaramu menggauli istrinya; maka hendaklah ia melakukan dengan tulus. Dan jika ia telah mencapai hajatnya (orgasme) sebelum istrinya mencapai (orgasme) hendaklah dia bersabar sampai istrinya menyelesaikan pula.
Begitulah Rasulullah mengajarkan sikap penuh cinta dan saling memperhatikan pasangannya. Bukan hanya kepentingan dirinya sendiri. Insya, Allah dengan cara ini, kita bisa menjaga rumah tangga kita sebagai surga dunia. Rumah tangga yang mawaddah, penuh cinta membara.
Selain itu, jangan ragu-ragu untuk selalu memberikan yang terbaik buat suami atau istri. Berikanlah apa yang paling disukainya. Karena, itu semua akan menenteramkan dan membahagiakannya.
Jangan canggung untuk memberikan cinta terbaik yang kita miliki, kepadanya. Ia adalah milik kita. Dan kita adalah miliknya. Sehingga Allah berfirman kepada kita di dalam Al-Qur’an untuk menghilangkan keraguan itu.
QS. Al Baqarah (2): 223
Isteri-isterimu adalah sawah ladang bagimu, maka datangilah sawah ladangmu itu sesukamu. Dan lakukanlah (yang terbaik) untuk dirimu, dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa kamu kelak akan menemui-Nya. Dan berilah kabar gembira orang-orang yang beriman.
Namun demikian, Rasulullah memberikan tips praktis kepada kita dalam berhubungan suami istri. Intinya janganlah kita semuanya hari ini. Mesti ada sedikit-sedikit yang dirahasiakan. Untuk diberikan di kesempatan yang berbeda.
Sesuatu yang sudah ‘blak-blakan’ diberikan semua, menjadi kurang 'curious' dan menggairahkan. Cepat bosan. Dan tidak ada tantangannya lagi. Sehingga, Siti Aisyah pernah berkata, bahwa dia dan Rasulullah selalu dalam keadaan yang tertutupi sebagian ketika bercinta dengannya. Lebih menarik. Lebih artistik. Dan menggairahkan.
Namun demikian semua itu berpulang kepada masing-masing individu. Ada yang senang blak-blakan. Ada juga yang senang sedikit tersembunyi. Toh semuanya sudah menjadi milik kita. Mau diapakan saja silakan...
Begitulah rumah tangga Islam. Harus dikelola secara baik dan penuh cinta. Bukan hanya untuk sekarang, melainkan untuk selama-lamanya, sampai maut memisahkan keduanya.
Yang juga perlu dipahami, barangkali adalah kecenderungan kesenangan antara laki-laki dan perempuan. Dalam bercinta, laki-laki dan perempuan memiliki ukuran kepuasan yang sedikit berbeda.
Laki-laki lebih mementingkan tercapainya orgasme, sedangkan perempuan lebih kepada perasaan disayangi dan dicintai. Karena itu, seorang perempuan bisa merasakan kepuasan, meski tidak mencapai orgasme seperti lelaki. Walaupun, jika ia mencapai orgasme akan lebih komplet kebahagiaannya.
Perasaan diperhatikan dan disayangi suami, dan sekaligus bisa melayani atau membahagiakan suami, seringkali lebih dominan dalam mendorong kepuasan seorang istri. Akan tetapi, pada seorang lelaki, orgasme merupakan kepuasan puncaknya. Jika tidak tercapai bisa ‘sakit kepala’
Karena itu Rasulullah mengingatkan kepada para istri untuk memahami hal ini. Jangan sampai ketika dibutuhkan oleh suami, tidak mau melayani. Meskipun dengan alasan sedang berpuasa atau ibadah.
Rasulullah bersabda demikian:
Satu hari pun seorang istri tidak boleh berpuasa tanpa ijin dari suaminya, jika suaminya sedang berada di rumah. Kecuali pada bulan Ramadhan. [HR. Ahmad Bukhari & Muslim]
Demikian pentingnya kepuasan seorang suami atas istrinya, sehingga mengalahkan puasa sunnah. Dan Allah mencurahkan ridhaNya atas seorang istri yang taat kepada suami demi kebahagiaan rumah tangganya. Keluarga yang mawaddah, yang penuh cinta membara..
Sumber : internet...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar