Apakah para pendengki itu akan rujuk dari perkataannya dalam penshahihan hadits ini [hadits yang berisi jaminan neraka bagi sahabat Mu'awiyah radhiyallahu'anhu] atau rujuk dari men-taqlid-i orang yang menshahihkan hadits ini? Dari pengalaman yang ada, nampaknya harapan kita susah diwujudkan, kecuali Allah menghendaki lain. Pengalaman pun menuntun kita agar hati-hati pada retorika mereka : “Kita hanya butuh riwayat yang shahih”. Riwayat shahih macam apa ? Shahihnya riwayat Al-Bukhaariy, Muslim, dan yang lainnya tentang keutamaan Mu’aawiyyah bin Abi Sufyaan di atas pun kemungkinan besar akan dibuang ke balik punggung mereka karena tidak sesuai dengan doktrin imam atau ulama mereka. Pokoknya, Mu’aawiyyah itu kafir. Titik. Akhirnya, sia-sialah pembicaraan kita….. ibarat berbicara dengan burung berkicau.
Sebagaimana tergambar pada omongan seorang Raafidliy sebelum membawakan riwayat Al-Balaadzuriy
Kita katakan:
Selanjutnya kita pun mengatakan semisal mereka katakan :
http://abul-jauzaa.blogspo t.com/2010/06/hadits-muawi yyah-mati-tidak-dalam-agam a.html
Sebagaimana tergambar pada omongan seorang Raafidliy sebelum membawakan riwayat Al-Balaadzuriy
Terdapat hadis yang mungkin akan mengejutkan sebagian orang terutama akan mengejutkan para nashibi pecinta berat Muawiyah yaitu hadis yang menyatakan kalau Muawiyah mati tidak dalam agama Islam. Kami akan mencoba memaparkan hadis ini dan sebelumnya kami ingatkan kami tidak peduli apapun perkataan [baca: cacian] orang yang telah membaca tulisan ini. Apa yang kami tulis adalah hadis yang tertulis dalam kitab. Jadi kami tidak mengada-ada.
Kita katakan:
Kami tidak pernah terkejut dengan tulisan Anda – walhamdulillah – , karena memang itulah tabiat Anda dan orang-orang yang sepemahaman dengan Anda semenjak beratus-ratus tahun lalu, tidak ada perubahan – kecuali mereka yang dirahmati oleh Allah ta’ala.
Selanjutnya kita pun mengatakan semisal mereka katakan :
“Dan setelahnya kami ingatkan bahwa kami tidak peduli apapun perkataan [baca : cacian] orang yang telah membaca tulisan ini. Apa yang kami tulis adalah hadits yang tertulis pada kitab. Jadi kami pun tidak mengada-ada”.
http://abul-jauzaa.blogspo
Tidak ada komentar:
Posting Komentar