Kamis, 21 Januari 2010

AHLI DZIKIR TIDAK TAKUT ALAM KUBUR...

(Khidmat Manaqib Suryalaya Maret 2008)

Berbahagialah kita yang telah mendapatkan talqin dzikir dari Pangersa Abah Anom kemudian mengamalkannya sesuai dengan petunjuk dan tuntunan serta bimbingan Beliau. Karena Allah SWT. berfirman dalam surat al-Ahzab : 35 : "Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mu'min, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam keta`atannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu`, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar." Jangan hanya ampunan dari Allah saja yang kita minta tapi juga ampunan dari sesama manusia karena taubat merupakan maqam pertama yang harus dilalui seseorang yang sedang menempuh perjalanan menuju Allah.

Sedangkan Nabi Muhammad SAW. dalam salah satu haditsnya bersabda : "Laisa 'alaa aHli laa ilaaHa illallaah wa khosyatun fii qubuuriHim walaa mansyariHim waka annii unzhuruu ilaa aHli laa ilaaHa illallaah waHum yanqudhuunat turooba ru-uusiHim wayaquluuna alhamdulillaaHilladzii adzHaba 'annalhazaan". Ahli Laa ilaaHa illallaah tidak akan merasa takut ketika memasuki alam kubur, tidak akan merasa takut ketika berada di alam kubur dan tidak akan merasa takut pula ketika dibangkitkan dari alam kubur. Bermacam-macam keadaan orang-orang yang dibangkitkan dari dalam kubur sesuai dengan balasan yang mereka dapatkan. Bagi ahli Laa ilaaHa illallaah ketika dibangkitkan dari alam kubur mereka membersihkan debu tanah yang menempel di kepalanya sambil berkata :alhamdulillaaHilladzii adzHaba 'annalhazaan (Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan dariku kesedihan di alam kubur).

Dzikir merupakan kebiasaan/akhlaq Rasulullah SAW. Oleh karena itu, memperbanyak dzikrullah merupakan salah satu usaha kita untuk mencontoh beliau sebagai suri tauladan. Dan di bulan Maulid ini, bulan dilahirkannya Nabi Muhammad SAW. yang mulia yang kita cintai, mari kita tingkatkan dzikir kita sehingga ada atsarnya (bekasnya) diantaranya kebersihan hati, bersih dari sifat sombong. Tidak hanya dzikirnya saja tapi juga kebiasaan/akhlaq yang lainnya seperti murah senyum, berdo'a sebelum makan, selalu bersilaturahim serta mencontoh perbuatan beliau yang selalu mendapat bimbingan dari Allah SWT.

Oleh : Drs. H. DADY HERMAWAN
Sumber = www.suryalaya.org


========================================

KERUGIAN ORANG YANG LUPA KEPADA ALLAH
(Khidmat Manaqib suryalaya agustus 2008)

Wahai saudaraku, jauhilah maksiat, sebab terkadang ia menjadi penyebab tertutupnya rezeki bagimu. Jangan engkau melalaikan dzikir dan ketaatan, sebab adakalanya ia menjadi penyebab padamnya mata hati dan keterputusan dari Allah. Allah berfirman : "Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri, rasa takut dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai" (QS. al-A'raf : 205). Ketahuilah, orang yang menggunakan kesehatan dan msa mudanya untuk bermaksiat kepada Allah, maka perumpamannya adalah seperti diwarisi ayahnya uang yang banyak, lalu ia belikan ular, kalajengking, serta berbagai binatang berbisa lainnya, lalu meletakkan semuanya di kamar tidur, makan yang satu mematuknya, yang lain menyengatnya, dan ada juga yang menggigitnya. Bukankah mereka membunuhnya?

Maka, perumpamaanmu adalah tak ubahnya seperti burung-burung pemangsa daging yang terbang berkeliling di atas bangkai-bangkai berserakan. Mereka mencarinya, dan begitu menemukannya mereka pun langsung turun dan menggayangnya dengan badannya yang besar dan sayapnya yang kuat, tinggi terbangnya dan tajam matanya. Tapi karena sasarannya berada di tempat sangat rendah, maka seringkali ia harus merosot turun ke bawah sehingga jatuh ke dalam kotoran-kotoran. Wahai saudaraku, jadilah engkau seperti lebah, kecil tubuhnya, pendek sayapnya, jarang terbangnya, tetapi semangatnya besar, jiwanya tinggi dan tidak hinggap kecuali pada bunga-bunga, hanya mengisap sari bunga nan wangi, mengeluarkan madu nan lezat dan hanya berbuat kebajikan. Jiwa-jiwa itu agung, maka untuk memenuhi kehendaknya tubuh-tubuh pun merasa senang.

Wahai saudaraku, lama sekali engkau berliku-liku di negeri ujian, diuji dengan musibah, didera dengan cambuk, agar engkau sadar dari kelupaanmu, bangun dari tidurmu, kembali kepada Tuhanmu, dan bebas dari dosamu. Tetapi, ujian itu tak akan berguna bagimu sedikitpun. Karena memang ujian itu sebenarnya bukan untuk orang yang sudah lupa (sepertimu), yang sedikitpun tak bisa menerima nasihat. Karena seorang wanita yang tak waraspun menyembelih anaknya di kamar sambil makan-makan dan tertawa, tidak menyadari apa yang sedang terjadi, tidak peduli dengan apa yang menimpanya.

Begitu juga engkau, engkau telah ditimpa berbagai musibah, seperti terlewatkannya bangun malam, tidak merasakan nikmatnya dzikir, hilang lezatnya bacaan al-Qur'an, meremehkan pemenuhan kewajiban, bebal dan tidak sedih, tidak menyesal, tetapi engkau malah banyak makan, tertawa, dan bersenang-senang. Semua itu terjadi karena kelalaian telah memadamkan hatimu, mematikan cahaya hatimu yang paling padam, merampas manisnya iman dari jiwamu, sehingga engkau tak lagi bisa membedakan antara yang berbahaya dan bermanfaat.

Orang hidup pasti terperanjat ketika ditusuk jarum ataupun duri, sementara mayat tidak merasakan apa-apa meski disayat-sayat pedang atau gergaji. Maka, jika engkau tidak bersedih atas terlewatkannya dzikir dan ketaatan, tidak bersedih setelah maksiat, maka engkau adalah orang mati hati, tak bernurani, tidak dapat membedakan antara kebaikan dan kejahatan, antara kebahagian dan kesedihan, tidak mengenal mana yang bermanfaat dan yang membahayakan.

Karena itu wahai saudaraku, tangisilah dirimu, berupayalah untuk membangunkan dan menghidupkan hatimu, mendekatkan dirimu dengan guru (musryid), duduklah di majelis dzikir, ilmu dan hikmah. Sebab di situ ada wangi dari tiupan surga, engkau akan menemukannya setelah bubar dari mejelis, dalam jalan hidupmu, di kampus, di toko, di rumah, atau sambil bersua bersama keluarga. Janganlah engkau lewatkan majelis-majelis dzikir, ilmu dan hikmah. Janganlah engkau katakan tidak ada gunanya hadir di majelis kebaikan dan ketaatan, karena aku telah terjerumus ke dalam dosa-dosa, dan aku tak kuasa meninggalkannya.

Karena perkataan seperti itu adalah dari bisikan syetan yang terkutuk, yang rasukannya ke dalam jiwa dimaksudkan agar seorang mukmin terhalang dari kebaikan. Tetapi yang berburupun tetaplah wajib memanah. Jika engkau mendapatkan buruannya hari ini, maka hari esokpun masih ada, dan jangan engkau putus asa dari rahmat Allah. Allah berfirman : Katakanlah :" wahai hamba-hambaku yang melapaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang" (QS. al-Zumar : 53)...

Sumber = www.suryalaya.org



=============================

Tawajjuh dan Talkin Dzikir
by : Ust Wahfiuddin

Tawajjuh (menghadapkan diri kepada Allah SWT) terjadi dalam Dzikir Sirri. Dzikir Sirri dilakukan dengan menundukkan kepala dalam-dalam, arahkan ke titik lathifah qalbi di bawah puting susu kiri, memejamkan mata, mengatupkan bibir (kalau perlu lidah pun dilipat ke langit-langit atas agar tak ikut bergetar), lalu rasakan asma Allah menelusup masuk ke qalbu.

Apabila sebelumnya telah melakukan Dzikir Jahri dengan tepat maka pada saat Dzikir Sirri di qalbu akan ada rasa:

* Rasa terbakar, kehangatan yang menjalar dari api cinta dan rindu kepada Allah SWT.
* Rasa tenggelam, terhanyut dalam lautan rahmat Allah SWT, terengkuh dalam pelukan qudrat-Nya dan tertimang dalam buaian iradat-Nya.
* Rasa terguncang, terguncangnya jiwa dan raga oleh getaran qalbu yang berdzikir mengingat Allah (QS. Al-Anfal 8:2).
* Puncaknya adalah air mata kebahagiaan yang mengalir dari taman taqwa di dalam qalbu.

Burung terbang dengan dua sayap...
Ruh melayang dengan dua dzikir: jahri dan sirri


Talqîn Dzikir
Sebagai persiapan untuk dapat berdzikir dengan baik, qalbu dan lathifah-lathifah yang menjadi sensornya harus mengalami tune up atau initiation lebih dulu. Semua perangkat itu harus menjalani proses aktifasi lebih dulu. Itulah yang disebut dengan talqin dzikir.

* Berasal dari kata laqqana (membelajarkan), maka talqiynâ (pembelajaran).
* Talqin Dzikir = Pembelajaran Dzikir:
o Proses ruhaniyah
o Menanamkan bibit dzikir ke dalam qalbu murid
o Menghubungkan qalbu murid dengan qalbu mursyid agar masuk dalam pantauannya.
* Dilakukan oleh wali mursyid (wali pembimbing) yang:
o Taqwa
o Qalbunya dawâm (ajeg) dalam dzikrullah,
o Kuat dalam tawhid,
o Tercahayai oleh nur ilahi.
* Talqin Dzikir dapat mursyid lakukan melalui wakil talqin.

Cermin yang jernih tak perlu sapuan lap,
Qalbu yang jernih tak peduli ucapan lafazh...

Kalau dzikir hanya sebatas mulut,
Bukankah burung beo peniru nomor satu?
Alla…hu, Huwa…, Hu…

Sumber = www.qalbu.net

http://hudaya-organization.blogspot.com/search/label/artikel%20dzikir

Tidak ada komentar:

Posting Komentar