Kamis, 21 Januari 2010

PENTINGNYA MENGEMBALIKAN KEPADA PEMAHAMAN PARA SHAHABAT KETIKA TERJADI PERSELISIHAN (KESALAH PAHAMAN) TENTANG AGAMA INI

Berkata Syaikh Abdul Malik Bin Ahmad Ramadhani dalam kitabnya Sittu Dhuror Min Ushuuli Ahlil Atsar:
Untuk menjelaskan pentingnya memahami Al Qur'an dan As Sunnah dengan pemahaman para salafush shalih saya bawakan kisah Imam Ahmad rahimahullah ketika beliau melalui hari-hari yang penuh ujian dan cobaan (di penjara). Saya mengutip kisah ini untuk memperjelas bahasan di atas. Al Ajurri rahimahullah berkata: Al Muhtadi rahimahullah bercerita kepada saya. Beliau berkata: "Tidak seorang pun yang dapat menghentikan ayah saya yaitu Khalifah Al Watsiq kecuali seorang syaikh yang berasal dari Al Mashishah (Imam Ahmad) yang dipenjara beberapa waktu. Pada suatu hari ayah saya teringat kepada beliau, lalu memerintahkan agar beliau dihadapkan kepadanya. Didatangkanlah beliau dengan tangan yang masih terikat. Dan ketika beliau sudah sampai ke hadapan ayah saya maka beliau pun mengucapkan salam tetapi salam beliau tidak dijawab oleh ayah saya. Berkatalah beliau: "Wahai Amirul Mukminin, anda tidak beradab dengan adab Allah la'ala begitu pula adab Rasul-Nya terhadap saya (padahal) Allah Ta'ala berfirman:

وَإِذَا حُيِّيتُمْ بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوا بِأَحْسَنَ مِنْهَا أَوْ رُدُّوهَا

'Apabila kamu dihormati dengan suatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik, atau balaslah (dengan yangserupa).'(QS. An Nisaa': 86)

Dan Nabi juga memerintahkan untuk menjawab salam!" "Wa'alaikassalaam", jawab ayah saya langsung yang kemudian memerintahkan Ibnu Abi Duad untuk menanyai beliau. Beliau pun berkata: "Wahai Amirul Mukminin, sekarang ini saya dipenjara dan terikat; saya shalat di penjara dengan tayamum; saya tidak diberi air. Oleh karena itu, perintahkanlah untuk melepaskan ikatan saya ini dan menyediakan air buat saya agar saya bisa berwudhu' dan shalat, kemudian setelah itu baru anda menanyaiku!"
Ayah saya pun memerintahkan agar ikatan beliau dilepaskan dan diambilkan air. Kemudian beliau pun berwudhu, lalu shalat. Setelah itu ayah saya berkata kepada Ibnu Abi Duad: "Tanyailah dial", tapi beliau (Imam Ahmad) langsung berseru: "Sayalah yang (harus) bertanya kepadanya dan kepada Anda (wahai Khalifah), dan perintahkan dia untuk menjawab pertanyaan saya!" Ayah saya pun berkata kepada beliau: "Baik, tanyailah dia!" Beliau pun maju ke hadapan Ibnu Abi Duad, kemudian bertanya: "Beritahukanlah kepadaku tentang apa yang anda dakwahkan kepada orang banyak, apakah yang anda dakwahkan itu adalah juga yang didakwahkan oleh Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam?"
"Tidak," jawab Ibnu Abi Duad.
"Ataukah yang didakwahkan oleh Abu Bakar Ash Shiddieq radhiallaahu 'anhu?" tanya beliau.
"Tidak," jawab Ibnu Abi Duad.
"Ataukah yang didakwahkan oleh Umar bin Khaththab radhiallaahu 'anhu sesudah keduanya tiada?" tanya beliau kemudian.
"Ataukah yang didakwahkan oleh Utsman bin Affan radhiallaahu 'anhu?" tanya beliau seterusnya.
"Tidak,' jawab Ibnu Abi Duad.
"Atau yang didakwahkan oleh Ali bin Abi Thalib radhiallaahu 'anhu?" tanya beliau lebih lanjut.
"Tidak," jawab Ibnu Abi Duad.

Beliau pun berkata: "Sesuatu yang tidak didakwahkan oleh Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam, juga tidak oleh Abu Bakar, Umar, Utsman, maupun Ali radhiallahu ta'aala 'anhum lantas anda dakwah-kan kepada banyak orang? Anda bisa mengatakan: 'Mereka itu mengetahuinya (berilmu) atau tidak mengetahui.' Jika anda beranggapan bahwa mereka itu mengetahuinya kemudian mereka diam, maka kami, anda dan semua kaum harus diam. Dan jika anda mengatakan: 'Mereka itu tidak mengetahuinya dan sayalah yang mengetahuinya,' maka alangkah bodohnya yaa luka' ibna luka' (wahai anda yang hina anak dari orang yang hina). Apakah masuk akal jika Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam dan keempat khalifah radhiallahu ta'aala 'anhum tidak mengetahui sesuatu yang anda dan sahabat anda mengetahuinya?!"

Al Muhtadi berkata: "Maka saya melihat ayah saya bangkit berdiri kemudian masuk ke dalam sebuah Al hairaa (kurungan). la tertawa sambil menutup mulutnya dengan bajunya kemudian berkata: "Benar, kita tidak terlepas dari mengatakan: Mereka tidak mengetahuinya atau mereka justru mengetahuinya. Jika kita mengatakan: 'Mereka mengetahuinya' kemudian mereka diam, maka kita harus diam sebagaimana kaum yang lain juga harus diam. Dan jika kita beranggapan bahwa mereka tidak mengetahuinya sedang kita yang mengetahuinya maka sungguh celaka kita ini. Apakah masuk akal jika Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam dan para sahabatnya radhiallaahu ta'aala 'anhum tidak mengetahui sesuatu yang kita dan sahabat-sahabat kita mengetahuinya?!"

Ayah saya kemudian berkata: "Ya Ahmad!"
"Ya, saya datang!" jawabku.
"Bukan kamu yang aku maksud, tapi Ahmad bin Abi Duad," sanggah ayah saya.
Kemudian ayah saya bangkit berdiri dan Ibnu Abi Duad mendatanginya. Ayahku berkata: "Berikan Syaikh ini (Imam Ahmad) nafkah kemudian keluarkan dia dari negeri kita ini."

Dalam satu riwayat yang dicantumkan oleh Adz Dzahabi dalam kitab As Siyar disebutkan: "Dan jatuhlah kehormatan dan martabat Ibnu Abi Duad di mata ayah saya dan tidak ada lagi seorang pun yang 'diuji' oleh ayah saya setelah peristiwa ini."

Berkata Al Muhtadi: "Maka aku bertaubat dikarenakan peristiwa ini dan saya pun mengira ayah saya juga rujuk sejak peristiwa ini."
Berkata Adz Dzahabi: "Kisah ini menarik sekali. Sekalipun pada sanad-nya ada pe-rawiyang majhul (tidak dikenal), tetapi riwayat ini memiliki syahid (penguat)."

Aku katakan (Syaikh Abdul Malik Bin Ahmad Ramdhani):
"Perhatikanlah! Sesungguhnya bantahan Imam Ahmad terhadap perkara yang besar ini dengan mengembalikan kepada jalannya salafus shalih menghilangkan perselisihan atau perseteruan secara langsung dan menjadi sebab datangnya hidayah bagi Al Watsiq dan Al Muhtadi seperti yang disebutkan dalam kisah itu. Hal ini memberi petunjuk kepada kita bahwa perkara itu (mengembalikan perselisihan kepada pemahaman salafus shalih) merupakan hal yang mendasar dan mendalam. Ingatlah itu!"

Oleh karena itu para 'ulama senantiasa mengulang-ulang perkataan Imam Darul Hijrah, Malik bin Anas rahimahullah:

لا يصلح آخر هذه الأمة إلا بما صلح به أولها

"Tidak akan baik akhir perkara umat ini kecuali dengan apa yang telah menjadi baik generasi awalnya."

Ungkapan yang agung ini diambil Malik dari gurunya Wahb bin Kiisan, dari riwayat Al Jauhari dalam musnad Al Muwatha' dari jalan Isma'il bin Abi Uwais dan Ibnu Abdil Baar dalam At Tahmid (23/10) dari jalan Asyhab bin 'Abdil Aziz, keduanya dari Malik berkata: "Pernah Wahb bin Kiisan duduk mengajari kami dan dia tidak berdiri sehingga dia berkata kepada kami: "Ketahuilah.........." Sanadnya Shahih

Sumber:
Sittu Dhuror Min Ushuuli Ahlil Atsar
Syaikh Abdul Malik Bin Ahmad Ramadhani

Edisi Indonesia:
6 Pilar Dakwah Salafiyyah
Pustaka Imam Asy-Syafi'i, Jakarta

1 komentar:

  1. Ini adalah hiwar (dialog) ketika Imam Ahmad rahimahullah dipenjara karena mempertahankan prinsip aqidahnya yang shahih yaitu Al-Qur'an adalah Kalamullah (firman Allah), bukan Makhluk, sebagaimana diyakini oleh khalifah Ma'mun yang menjadi khalifah waktu itu dan kemudian dilanjutkan oleh khalifah selanjutnya ...
    Liihatlah ... bagaimana gigihnya Imam Ahmad rahimahullah dalam memegang teguh al-Haq hingga Allah nampakkan kejayaan orang yang berpegang dengannya ...

    Ketika mengenang peristiwa ini Imam Ali bin Al-Madini berkata:
    أعز الله الدين بالصديق يوم الردة وبأحمد يوم المحنة... Lihat Selengkapnya
    Allah berikan kejayaan agama ini berkat Abu Bakar Ash-Shiddiiq pada hari Riddah (ketika orang-orang Arab murtad setelah Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam wafat) dan berkat Ahmad bin Hanbal pada hari Mihnah (ketika terjadi fitnah Al-Qur'an adalah Makhluk) ...

    "WAJIBNYA" MENGEMBALIKAN KEPADA PEMAHAMAN PARA SHAHABAT KETIKA TERJADI PERSELISIHAN (KESALAH PAHAMAN) TENTANG AGAMA INI

    BalasHapus