Rabu, 12 Mei 2010

salah Kaprah Membawa Petaka

Syeitan memiliki dua cara efektif menggoda seorang muslim dan menjerumuskannya kedalam kesesatan. Pertama : apabila seorang muslim adalah pelaku kemasiatan dan orang yang tidak memiliki komitmen kepada agama, maka syeitan menghiasinya dalam kemaksiatan dan syahwat tersebut hingga ia jauh dari ketatan kepada Allah dan RasulNya. Kedua: apabila seorang muslim tersebut orang yang taat dan ahli ibadah maka syeitan hiasi dengan sikap ektrem dan berlebihan dalam agama agar agama orang tersebut rusak.
Diantara tipudaya syeitan kepada kelompok kedua ini adalah menyeret mereka untuk mengikuti kebidahan dan salah kaprah dalam memahami ajaran agama islam yang mulia ini serta menjauhkan mereka dari para ulama yang dapat memberikan petunjuk dan bimbingan dalam berjalan diatas jalan yang lurus dan benar. Semua ini dilakukan agar semakin tenggelam dalam penyimpangan dan kesesatan.
Penyakit “salah kaprah dalam memahami ajaran islam” telah terjadi sejak para sahabat Rasululloh n masih hidup. Tepatnya dengan kemunculan sekte Khawarij yang berawal dari salah kaprah dalam vonis kafir lalu berujung kepada pemberontakan dan pembunuhan kaum muslimin, sehingga Rasululloh sifati dengan sabdanya:
يَقْتُلُونَ أَهْلَ الْإِسْلَامِ وَيَدَعُونَ أَهْلَ الْأَوْثَانِ
Mereka memerangi kaum muslimin dan membiarkan penyembah berhala (Muttafaqun ‘alaihi).
Mereka demikian karena memahami nash-nash syari’at menyelisihi pemahaman para sahabat waktu itu, karena itu ketika sahabat yang mulia Ibnu Abas z mendebat mereka dengan pemahaman yang benar, maka kembalilah mayoritas mereka dari kesesatan tersebut.
Jelas sekali syetan mempermainkan akal kaum khawarij sehingga mereka mengikuti hawa nafsunya dan bersandar penuh kepada kemampuan dan kedangkalan pemahaman mereka. Semua ini membuat mereka enggan merujuk kepada para ulama dari kalangan para sahabat yang telah jelas berada diatas petunjuk Rasululloh n . Akibatnya mereka menyimpang dengan memvonis mayoritas kaum muslimin waktu itu sebagai orang-orang kafir dan murtad dengan slogan :

Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah.
Alangkah samanya hal ini dengan sebagian kaum muslimin sekarang yang sibuk mengumandangkan slogan ini, lalu mulai memvonis kafir sebagian kaum muslimin. Berawal dari pemerintah baik eksekutif, legislatif maupun yudikatif lalu menular sampai mengkafirkan semua orang yang dianggap mereka ridho dan setuju dengan hukum-hukum “toghut”. Akhirnya darah kaum musliminpun dihalalkan dan ditumpahkan begitu saja dengan pengeboman dinegara yang nota bena berpenduduk mayoritas muslimin.
Demikianlah dari salah kaprah dalam memvonis kafir membawa bencana bagi kaum muslimin dan mencoreng wajah indah ajaran Islam, sehingga cap “terorisme” menempel secara paksa pada din islam yang mulia ini.
Sudah menjadi kewajiban para umara (pemerintah) dan ulama untuk membimbing kembali mereka kepada ajaran islam nan suci yang telah difahami secara benar oleh para sahabat dahulu. Lihatlah bagaimana kholifah Ali bin Abu Tholib z mengizinkan dan mengutus shahabat Abdullah bin Abaas z untuk mendatangi kaum khawarij dan menjelaskan kesesatan mereka sehingga akhirnya mayoritas mereka kembali kepada kebenaran.
Sekaligus mengajak kaum muslimin untuk tidak mengikuti hawa nafsu dan bersandar kepada kedangkalan ilmu dan akal mereka tanpa merujuk kepada para ulama rabbani yang telah hidup bersama ilmu hampir seluruh usianya. Para ulama pewaris para nabi yang sudah dikenal memiliki komitmen yang teguh dalam membela, menyebarkan dan mengamalkan isi kandungan al-Qur`an dan Sunnah.
Mudah-mudahan dengan demikian kita dapat mereka memahami dan mengamalkan agama islam sesuai ajaran RasulNya sehingga menjadi umat terbaik dan generasi terbaik umat manusia.
Allah l berfirman yang artinya

Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. (QS. 3:110).
Semoga bermanfaat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar